Skip to main content

Lelaki : Mempertanyakan Cinta


photo by @boimakar
Yang masih jadi kepercayaan diri adalah, bahwa cinta itu hak dan kewajiban yang dilebur jadi satu. mereka melebur, seperti adonan yang diuleni ketika membuat kue. Yang satu, memberi rasa kepada yang lain, tanpa ada yang ingin menjadi lebih kuat. Selaras dan tidak saling menyakiti. Hak dan Kewajiban itu, selaras didalam tubuh cinta. Menjadi nafas dan darah, atau bahkan menjadi nyawa dan raga.

Apakah akan serumit itu?
Bisa saja jadi begitu. Bayangkan ketika cinta hanya menjadi hak saja. Kita menuntut habis-habisan tentang cinta. Menginginkan segalanya menjadi mudah untuk kita. Merasa tidak mau disakiti, dan menolak untuk dikhianati. Menuntuk untuk mendapatkan perhatian lebih dan selalu dimanjakan oleh kemewahan-kemewahan perasaan nyaman dan senang. Berharap semuanya seperti peri yang tidak pernah tersakiti.

Sementara, jika dia menjadi kewajiban saja, dia akan memberi tak putus-putus. Melayani tanpa kenal pamrih. Mengorbankan dirinya, meski harus hancur, karena semangat pengorbanan itu menjadi kelihatan lebih penting. Rasa ingin menjadikan kebahagiaan menjadi wajib. Dia membakar dirinya, seperti lilin, untuk menerangi sekalilingnya. Kemudian, terang yang berganti gelap, tak pernah mengenang lilin itu sekalipun. Disinggung dalam obrolan makan pun, tidak pernah. Dan ia membiarkan diri mati, karena merasa wajib untuk menjadikan itu sebuah kebanggan. Seperti, mati dalam cinta adalah prestasi.

Dalam fikiran saya, cinta seharusnya melebur dalam hak dan kewajiban. Dia menyajikam kehangatan teh pada sore hari, untuk kemudian diminum dengan hangat obrolan. Tidak ada cacian, apakah itu terlalu manis atau terlalu pekat, semuanya dinikmati saja dengan nyaman. Itu adalah hak dan kewajiban. Perasaan untuk saling menenangkan, perasaan untuk saling memberi, dan ikhlas menerima. Bukankah ada pepatah yang bilang, kalau raga kita sebenarnya adalah pecahan dari raga seseorang yang kemudian harus dipersatukan untuk mendapatkan keutuhan? Layaknya teh dan gula, yang kemudian terasa lebih mempesona ketika bersatu, meski keduanya bisa menjadi bagian dari dirinya masing-masing jika mau.
photo by @boimakar

Hak dan kewajiban pada cinta adalah kesetaraan untuk berbuat tanpa ada rasa ingin lebih, satu dengan yang lain. Kemudian, apakah dia menjadi barometer kesuksesan, tentu tidak semudah itu menilainya, Bagaimana ia bisa menjadi mengalir apa adanya, dan bertemu kembali pada waktu berikutnya, itu cukup. Ia memberi, diberi. Meminta dan dipinta. Menyelesaikan dan diselesaikan. Nyaman dan membuat nyaman. (bmkr/1303)

Comments

Popular posts from this blog

Gede Via Gn. Putri With Pundee

Sudah lupa ini pendakian ke berapa! Tapi saya tetap menyukai gunung Gede dengan segala macam tetek bengeknya. Menyukai tanjakan-tanjakan akarnya sumpah serapah menapaki tangga-tangga sepanjang jalur putri Hutannya yang lebat Licin tanahnya Batuannya Edelweisnya Surya Kencana yang membentang Angin badainya yang menciutkan nyali Puncaknya yang berkabut bau tanah sehabis hujan rumputan yang mengering arbei teman membuat jeli atau saya hanya menyukai diri sendiri! 18-19 Oktober..bersama rekan-rekan dari Pundee, Mendaki jalur Putri untuk mencapai Surya Kencana dan Puncak Gunung Gede. Meski cuaca pada awalnya Bagus..namun, ternyata kabut tebal dan angin kencang menerpa sepanjang hari. Bersukur masih bisa menyaksikan bintang-bintang berkedip memberi salam! Bravo! thanks to Allah SWT, Tuhanku yang selalu mejaga perjalananku! Rasulku untuk teladan mu selalu Emak, yang sabar punya 2 anak yang hobinya kelayaban! Om Pur untuk kesempatannya mendaki bersama rombongan kantor Tante Inung -- yang bayar...

I'm Working Tonight, Darling!!

I'm working tonight, darling! Still! Sorry for not calling you, lately photo taken by : eko eko_purnomo18@yahoo.com

Masjid Atta'Awun Puncak

Dari gunung mas, Puncak, Jawa Barat, Masjid ini adalah simbol ketaatan dan saksi segala kemaksiatan yang terjadi di daerah puncak...