Skip to main content

Merapi 16-18 Agustus 08




Ini Pendakian pertama bareng JPers!!
Ya ampyuuunn...penuh dengan kenarsisan tak putus-putus!

Comments

  1. selamat ya cintaaaaaaaa....
    Akhirnya kamu ke Merapi meskipun belum k AW
    hahahahaha....

    ReplyDelete
  2. kerennn ... benderanya bikin idup ..

    ReplyDelete
  3. halah... tovic. Masih suka boong soal jarak n waktu ngga nih?
    hahahhaa

    ReplyDelete
  4. tapi teteup aja....blm ke AW...
    kalo ada umur, anterin ya say! hehe..
    Baru kalee ini Merapi bisa diphoto bareng aku...

    ReplyDelete
  5. Hahahah.. Padahal dia sendiri yang narsis..!!, dasar..! :-D

    ReplyDelete
  6. seharusnya sebelum foto, elu naik ke gundukan duluuuu biar sama tinggi.. hihihiii

    ReplyDelete
  7. ajak2 gue yo iiiiiiiiiiiiiimmmmmmmmmmmmmmmm

    ReplyDelete
  8. kyak kmaren ke Gede...kan kena tuh gw racunin...berikutnya Merapi yah!! hehhe

    ReplyDelete
  9. wedeeeeewwww......keren neh....LANGIT nyaahhh.....
    hihihiiii............

    ReplyDelete
  10. Merdeka.....!!!!!! seneng rasanya 17 an di Puncak...... Bravo Jpers.....

    ReplyDelete
  11. wuiiiddhhh...ini aki-aki dari mana ya??? xixixiixx......

    ReplyDelete
  12. terima kasih mas!! kpan-kpan kita naek bareng!

    ReplyDelete
  13. mas boiiiimmm..., gitu deh... mentang2 dah sibuk ma kegiatan alamnya... ko' dah jarang ma latihan nari'nya siy..... hiks....

    yg terlupakan...

    ReplyDelete
  14. terakhir ke merapi 17-an tahun 2002....pas ada pengibaran bendera terbesar....tp udah lama skale ya....jd pengin nih...

    ReplyDelete
  15. wah, saya terakhir kesana, ya kmaren...sebelumnya udha lama banget...2004 kalee...dah beda sekarng...debunya tambah banyak...

    ReplyDelete
  16. Waduh kayak rayap, yang ini-nih nostalgia jaman dulu, keren abis...!!

    ReplyDelete
  17. Ini di sebelah mananya ya ? Apa yang di belakang itu Merbabu ?

    ReplyDelete
  18. hehe..dari sebelum subuh mpe menjelang tengah hari ..bersemut ria om..mpe serem..takut ktimpa batu!

    ReplyDelete
  19. puncak bayangan om..ada di sebelah kiri kalo dari pasr bubrah...betul sekali..itu Merbabu..diambil jam 5:30 an pagi...

    ReplyDelete
  20. Weleh-weleh, teringet zaman dulu, itu Merbabu gunung pertama yg aku daki, dapet pengalaman denger suara gamelan di tengah hutan....hiiiii serem

    ReplyDelete
  21. wew...serem!! seumur-umur naek gunung...gak pernah tuh ngeliat yang aneh2..(aku sendiri aja dah aneh..heheh) ... pernah deng...di Slamet..tenda di puterin sama suara kaki kuda!! waaaaaaa!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lelaki : Menjadi

bicara engkau tentang gelisah yang dua tiga pekan ini membuncah saat malam sepi, tangismu pecah antara hujan dan petir yang turun tergesa-gesa sudah, bersabarlah, tenanglah .. lupakan semua hari kemarin kesini datang dalam dekapku kita mengembara meski hanya otak dan khayal bmkr/0413

Lelaki : Mempertanyakan Cinta

photo by @boimakar Yang masih jadi kepercayaan diri adalah, bahwa cinta itu hak dan kewajiban yang dilebur jadi satu. mereka melebur, seperti adonan yang diuleni ketika membuat kue. Yang satu, memberi rasa kepada yang lain, tanpa ada yang ingin menjadi lebih kuat. Selaras dan tidak saling menyakiti. Hak dan Kewajiban itu, selaras didalam tubuh cinta. Menjadi nafas dan darah, atau bahkan menjadi nyawa dan raga. Apakah akan serumit itu? Bisa saja jadi begitu. Bayangkan ketika cinta hanya menjadi hak saja. Kita menuntut habis-habisan tentang cinta. Menginginkan segalanya menjadi mudah untuk kita. Merasa tidak mau disakiti, dan menolak untuk dikhianati. Menuntuk untuk mendapatkan perhatian lebih dan selalu dimanjakan oleh kemewahan-kemewahan perasaan nyaman dan senang. Berharap semuanya seperti peri yang tidak pernah tersakiti. Sementara, jika dia menjadi kewajiban saja, dia akan memberi tak putus-putus. Melayani tanpa kenal pamrih. Mengorbankan dirinya, meski harus hancur, kare...

Sebuah Cerita Dari Garut Selatan

Sebuah Cerita Dari Garut Selatan Edisi Dari Pantai ke Pantai Dari susur pantai Nature Trekker Indonesia – Pamengpeuk –Papandayan Oleh : Boim Akar Angin pagi berhembus dengan lembut. Membelai wajah yang masih lusuh, karena perjalanan panjang dari Jakarta. Kami sudah hampir sampai. Subuh baru saja lewat. Semburat keemasan perlahan membias diufuk timur. Terhalang bongkahan bukit yang berdiri kokoh. Kabut tipis menari nari berkejaran dengan burung-burung yang memulai peruntungan mengadu nasib ini hari. Kampung ini begitu tenang. Jalur perlintasan antara kota Garu yang sudah kami lewati beberapa waktu sebelum azan subuh berkumandang, dengan Pamungpeuk, sebuah kabupaten di sebelah selatan kota Garut. Semuanya nampak indah. Hijau membentang dengan sangat leluasa. Hembusan angin begitu bermakna disini. Beberapa mobil besar mengangkut hasil bumi yang akan dijual ke kota. Maksudnya Garut. Yah, mereka menyebutnya dengan kota saja. Karena keberadaan mereka yang jauh di pelosok. Mobil bus tiga pere...