Skip to main content

Posts

Lelaki : TransJakarta Yang (Tak Lagi) Nyaman

Sore Jakarta | Photo by @boimakar B eberapa hari ini, rasanya Transjakarta Busway, menjadi sangat tidak bersahabat. Prilaku orang-orang yang naik, suasana halte yang semerawut, hingga oknum-oknum petugas yang terkesan cuek dan tidak ambil pusing dengan keadaan calon penumpang dan laporan hal-hal yang terjadi. Saya dan istri, kerap kali harus menggunakan sarana transportasi umum untuk berangkat dan pulang bekerja. Hampir pasti, setiap hari, kami harus berjibaku untuk bisa sekedar masuk dan berdiri didalam armada transjakarta. Kami berangkat, dari halte transjakarta LIA Pramuka, di koridor 4 yang mengubungkan Pulo Gadung – Dukuh Atas. Untuk kemudian, berpindah ke koridor 1, menuju Blok M. Dan pulang dengan rute sebaliknya. Kurang dari jam 6 pagi, kami sudah ada didalam halte Transjakarta Lia Pramuka. Beberapa kali, di halte BPKP, karena posisi rumah kami, yang ada diantara kedua halte tersebut. Menunggu armada bus disini, rasanya lebih sering menjengkelkannya dari pada sena...

Perjalanan 2 : Burung Hantu & Kunang-Kunang

Bulan sepertinya enggan benar muncul kemudian. Hanya bintang-bintang yang kedap kedip dari angkasa. Bertanda cerahnya malam. Sosok bulat itu sendiri, malu-malu menyembul dari awan yang kemudian berlari keawan lain. Kunang-kunang beterbangan disekitar rimbunan bambu depan tendaku. Gemeretak kayu yang diinjak dibelakang tenda, berganti dengan sesosok tubuh tinggi yang perlahan jongkok. “ Maaf, apa boleh saya ikut ngobrol disini?”   photo istimewa Saya yang terperanjat, memegang garpu makan itu kuat-kuat. Cukup untuk membala diri, ketika memang hal buruk terjadi. Saya mengangguk. Lelaki itu tersenyum. Kemudian mengambil beberapa kayu kering yang berserak tidak jauh dari tenda. Dan membakarnya, menjadikan api unggun. Terampil sekali, pikirku. Dia menambahkan beberapa potongan kayu yang cukup besar, sambil berkata, bahwa cukuplah untuk menemani kami ngobrol hingga malam nanti. “ Sudah makan?” saya bertanya. Membuka suasana. Dia menggeleng, tapi menolak ketika saya a...

Lelaki : Perjalanan 1 : Hutan Pinus Dan Elang Jawa

“ Jangan lari di jembatan gantung itu! Bahaya!” Suara itu berat berteriak dibelakang. Putus-putus seperti berlari juga. Jalanan batu yang dinaungi pohon-pohon bambu lebat, membuat malam ini terasa begitu mencekam. Redup rembulan tak mampu menembus kungkungan rapat daun-daunnya yang bertumpuk rapat. Aku menghentikan langkah ku tepat di ujung jembatan gantung itu. Jembatan yang memanjang diatas sebuah sungai berair deras, meski tidak kelihatan suaranya terdengar jelas, serta bebatuan yang samar kelihatan karena cahaya bulan. Menunggu suara yang dari jauh menghentikan langkahku. Dalam sepi begini, bisa saja itu rampok yang memanggil. Aku berjaga-jaga dengan menggenggam belati yang dari tadi bersarang di pinggang. Pisau serbaguna yang biasa kami pakai jika berkemah. photo special Pelan-pelan, sebuah cahaya datang dengan cepat. Membelok tepat dibawah jembatan. Sesosok tubuh tinggi besar dengan head lamp yang mengorot kearahku. Hingga aku tidak bisa mengenali raut mukanya. Ak...

Lelaki : Dalam Kabut - Bagian 3 - Selesai -

photo by @boimakar “ Lalu,” dia tiba-tiba bersuara, disela-sela seruputan kopi dan hisapan rokok keretek yang asapnya mengepul memenuhi ruang kosang depan mukanya, menjadi putih, diantara gelap yang makin pekat, sudah lewat magrib, dan langit barat masih kelihatan memerah, berhias kelabu awan yang membentuk garis-garis yang elok, “ kenapa lu neak gunung? Cari wangsit?” dia terkekeh. Meski saya ikutan tertawa, namun hati rasanya tidak bisa membenarkan pertanyaannya. Wangsit? Wangsit dari Hongkong! Batin ku. Namun, tidak urung, pertanyaan itu, membangkitkan kembali kenangan-kenangan masa lalu yang membentuk ini menjadi sebuah perjalanan. Rasanya, tidak siap mendengar kenapa pertanyaan ini terlontar kembali. Meski saya tahu persis harus menjawab apa, tapi nyatanya saya diam untuk beberapa waktu, hingga dia menegur dengan melemparkan sejumput kulit kacang garing ke wajah saya. Reflek, saya menangkis lemparan itu dengan tangan sembari mencondongkan badan ke kiri, dan menubruk...

Lelaki : Dalam Kabut - Bagian 2

Gerimis turun lagi. Kali ini, disertai petir yang menggelegar dan kilat yang menyambar-nyambar di ujung langit. Rasanya, mustahil memang untuk melanjutkan perjalanan. Satu jam yang dari tadi diucapkan sudah lewat lima belas menit. Dan benar saja, ini tidak seperti yang diharapkan. “ Kita naik sedikit lagi yah, di sono ada tanah datar yang bisa bikin satu tenda. Semoga belum ada pendaki lain yang nempatin,” dia ngoceh tanpa berhenti. Saya yang sudah mulai letih tak menjawab omongannya. Menganggukpun tidak. Rasanya itu bukan seperti bahan diskusi. Lebih seperti perintah yang tidak maupun, memang harus mau.   photo @boimakar “ Kok diem?” dia tiba-tiba bertanya, setelah lebih tiga puluh menit kami mendaki. “ Mau apa? Koprol? Salto?” saya menjawab berang. Membuka mulutnya lebar dan dia tertawa terpingkal. Jengkel betul rasanya ditertawakan setelah perjalanan jauh begini. Mana itu, satu jam yang sudah dijanjikan dari bawah tadi. Rasanya seperti janji manis yan tak pernah...

Lelaki : Dalam Kabut - Bagian 1

Hujan turun deras. Menyiram bumi seperti miliyaran air mandi dari shower yang ditumpahkan dari langit. Beberapa membentur tajuk-tajuk pohon yang tinggi menjulang diatas kami. Air hujan yang kecil menerobos daun-daun hijau yang rindang, untuk jatuh ketanah. Menyiram kami yang masih berjalan pelan menaiki   jalan setapak berbatu yang sebagian tergenang air. Meski jas hujan yang kami pakai cukup baik, namun kekuatan dan keluesan air hujan masih tetap menerobos menembus badan kami yang mulai letih. Bercampur keringat yang sepertinya enggan keluar dari pori-pori, terhalang dingin udara yang menyelubung badan. photo Koleksi Pribadi “ Capek?!” dia berhenti dan menoleh kebelakang, ke arah saya yang berjalan lebih lambat. “ Itu pertanyaan atau pernyataan?” saya ikut berhenti. Beberapa langkah dibelakangnya. Memandang badan nya yang kelihatan lebih jangkung dari sudut ini. “ Itu pertanyaan, bodoh!” dia tekekeh, “ gua sih gak capek. Lari juga masih sanggup!” namun tak aya...