Skip to main content

Posts

Lelaki : Ketika Katak Telah Menjadi Lembu

Tidak ada seorang manusia pun di dunia ini, terlahir karena dia ingin miskin. Ingin lho yah, bukan karena memang harus miskin. Ada kalanya kemiskinan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa kita pungkiri, seperti kita tidak bisa menghindarkan terjadinya bencana alam seperti gempa bumi atau gunung meletus. Pepatah katak hendak jadi lembu, sepertinya tidak terlalu salah pada masa sekarang ini. Dahulu, ketika jaman sekolah dasar, kita selalu dicekoki dengan cerita seekor katak yang dengan congkaknya ingin menyaingi si lembu. Katak yang bertubuh imut, kemudian menelan nafas banyak-banyak hanya untuk berambisi menjadi sebesar lembu. Tapi itu jaman dulu, ketika belum ada istilah operasi pelastik atau pinjaman tanpa agunan dari bank. Kini, ceritanya sudah berbeda sama sekali. Nyaris seratus delapan puluh derajat perbedaannya. Kenyataan yang terjadi sekarang, betapa kita liat banyak sekali katak yang telah jadi lembu. Kalau kita ibaratkan mereka adalah orang-orang yang secara finansial tidak m...

Lelaki dan Hasrat Hidup Bahagia

H idup bahagia, pastilah menjadi impian setiap orang. Meski kebahagian itu selalu identik dengan uang, harta kekayaan dan pekerjaan mapan. Setidaknya, banyak stigma manusia terkungkung kepada pendapat serupa itu. Absurd betul, ketika semuanya menjadi barometer. Karena, bisa saja si "miskin" lebih bahagia dari pada si "kaya". Bagaimana indikasinya? Kenapa ada pikiran semacam itu, tiba-tiba muncul. Apa lebih kepada penghiburan hati Lelaki saja? Lelaki, pernah berfikir untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bekerja tanpa kenal lelah, hantam kanan dan kiri tanpa peduli apa ada orang-orang tersakiti. Hajar saja. Selama ada rupiah mengalir kedalam dompet, kenapa harus memperdulikan orang lain. Yang dilihat masyarakat banyak itu kan, kalau Lelaki sudah punya motor baru, sudah pakai handphone merek paling populer, melihat Lelaki tiap hari jajan di warung nya pak RT yang menjual aneka rupa makanan lauk untuk makan, atau membelikan ponakan-ponakan hadiah-hadiah karena n...

Memburu Kopi Toraja

Desa Indah yang Menawan Memburu Kopi Toraja Daratan Sulawesi sudah bukan rahasia lagi, memang menjadi tujuan petualangan yang mengasikkan. Ada Takabone Rate, Lore Lindu, Bunaken, Wakatobi, Bogani Nani Wartabone, dan Rawa Aopa Watuhohai. Jadi sudah pasti, suguhan pengalaman baru dan petualangan kelas satu bisa kita dapatkan dengan lengkap disana. Beberapa gunung juga sangat popular dikalangan para pendaki. Sebut saja, Bawakaraeng dan Latimojong. Siapa yang tidak tahu? Namun, ada satu kekayaan alam yang banyak dilupakan orang di Sulawsi. Yah, Kopi. Selebes, khususnya Tana Toraja, terkenal sekali dengan kopinya. Coba saja masuk kedalam café-café di Jakarta yang menjual kopi. Mestilah kita menemui menu Kopi Toraja atau Kalosi Toraja.. Rasanya nikmat. Dan harganya lumayan mahal. Berkisar antara dua puluh lima ribu sampai ada yang membandrol empat puluh ribu rupiah secangkir. Fantastis bukan? Namun tahukah kawan, bagaimana kopi toraja itu dibuat sehingga rasanya serta harganya bisa f...

Sunda Kelapa & Batavia

Selamat datang senja selamat datang di sunda kelapa

Lebaran - Malam Kemenangan

Kala takbir berkumandang mengagungkan asma Tuhan, masih ada sebagian orang yang harus bekerja. Demi Negara, Demi keluarga, Demi Hari lebaran yang banyak menghabiskan uang.

Lebaran - One Day Before

Satu hari menjelang lebaran, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan ke pasar dan jalanan. Sibuk sekali masa itu. Dijalan, rombongan pemudik memenuhi jalanan, dipasar, orang berbelanja keperluan dapur, makanan, sampai perhiasan. Ada yang masih bekerja, meskipun besok sudah lebaran. Geliat kehidupan seperti tidak pernah berhenti. Rejeki mengalir lebih deras dari pada peluh yang mengalir dihimpit lalu lalang pasar.

Lebaran - Ziarah Makam

Di Kampung saya, hari kedua lebaran itu dipakai untuk ziarah kubur. Bukan pda hari setelah sholat Ied, karena pada hari itu, kita menziarahi yang masih hidup. Silaturahim ke tetangga, sanak saudara, dan handai taulan. Semua orang, satu desa, berbondong datang ke pemakaman umum desa. Beberapa sempat saya rekam dalam kamera

Photo Album 2009-09-29

Nelayan

Iseng ikutan mancing sama temen-temen... eh bukan deng.. di tipu... katanya mo maen, ga tahunya diajak panas-panasan... walhasil, gak konsen, gak bisa maen poker, gak biasa mancing.... huh! panas....!!

Lelaki dalam Dua Peristiwa

A da dua peristiwa penting terjadi dalam bulan ini. Sebetulnya ada tiga, namun karena yang tpertama ini terjadi setiap tahun, maka tidak masuk hitungan. Yang pertama pasti semua sudah menduga. Ramadhan. bulan suci umat Islam. Semua orang dijagat raya menyambut kedatangannya dengan suka cita, dengan berseri seri, dengan tangis haru dan kebanggaan sudah bisa bebas dari sebelas bulan penuh cobaan. Dan di Ramadhan, kita menjadi tempat curahan bonus pahala, bahkan untuk sesuatu yang tidak kita sadari. Ramadhan menjadi peristiwa penting pertama yang sudah pernah dibahas ditulisan sebelumnya. Dua terakhir berkaitan dengan pemenuhan hasrat para penggiat alam bebas yang mempertanyakan tentang melambungnya tiket masuk Taman Nasional GUnung Gede Pangrango di Jawa Barat. Gunung yang menjadi target pendakian dan menjadi gunung yang paling ramai didaki ini, kemudian menjelma menjadi gunung mewah dengan peraturan baru yang sangat mencengangkan. Betapa tidak, indikasi yang sangat gampang adalah tiket...

Ngabuburit

Jalan-jalan ngabuburit

Hitam Putih Dunia

Dunia dalam hitam putih kehidupan

Lelaki dan Televisi bulan Ramadhan

Masih seputaran ramadhan, ada hal lain yang membuat kita seakan bisa meninggalkan ibadah demi sebuah kenikmatan. Setan memang tidak pernah putus asa membeberkan kenikmatan dunia di depan mata kita. Hingga kadang kita lupa akan kaidah dan kepentingan apa dibalik missi mereka. Dogma yang sudah di kantongi oleh masyarakat adalah, dibelenggunya setan-setan pada masa Ramadhan. Benarkah? Lalu kenapa kejahatan dan tindakan yang "pada masa sebelum ramadhan" merupakan tindakan setan, bulan ini masih terjadi? Apakah, yang kemudian berperan bukan setan? Atau setan apa yang sanggup keluar dari belenggu Ramadhan? Setan dalam arti harfiah, mungkin sulit didefinisi secara jelas. Yang kita terjemahkan adalah, setan itu seperti suster ngesot atau simanis jembatan ancol. Kuntilanak atau hantu jeruk purut. Itulah setan. Tidak pernah terdengar bahwa setan mengacu kepada mahluk hidup berprilaku bajingan, jahat dan sangat memuakkan. Pada bulan puasa, televisi membentengi ruang siar mereka dengan s...

Lelaki, Pencuri dan Juragan

K laim kebudayaan Indonesia atas negara lain, belakangan kembali marak dibahas orang. Hampir semua media cetak dan elektronik mengupas habis tentang apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi dinegara kita. Tak tanggung-tanggung, ada 32 jenis budaya, berupa tarian, kuliner, desain barang bahkan sampai ke ulos di claim menjadi hak dan beberapa dipatenkan oleh negara lain. Masih ingat tentang kasus Sipadan dan Ligitan? Masih ingat tentang status kepemilikan blok Ambalat? Atau masih ingat tentang tempe dan jahe yang di patenkan Jepang dan Amerika Serikat? Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai bangsa yang merasa mempunyai dan memiliki akar budaya yang mereka claim sebagai milik mereka tersebut? Kita boleh marah, boleh benci, boleh mencaci maki, boikot dan atau semacamnya. Namun, coba telaah lebih rinci dan lebih dalam, kenapa hal itu bisa terjadi. Jangan hanya main ikut saja. Jangan cuman marah. Ibaratkan, Indonesia adalah juragan yang mempunyai harta banyak sekali. Saudagar yang kekay...

Lelaki untuk Menyenangkan Semua Orang

S ebuah acara besar baru saja di gelar. Perhelatan yang menurut sebagian orang sangat mempesona. Bukan dari apa yang terjadi, kemasan dan yang lainnya juga menarik, menurut mereka. Partisipan yang berasal dari seluruh nusantara berbaur dalam satu kegiatan besar itu, mendirikan tenda-tenda berwarna-warni dan bersama-sama membakar semangat mengalahkan dingin menusuk kawasan tempat berlangsung acara. Agustus, memang menjadi bulan yang sangat dingin. Setidaknya dalam sebuah kawasan pegunungan di Bandung Selatan. Satu-dua hari, tanggapan dan pandangan partisipan acara mulai berdatangan. Media email terlihat begitu kompak dan antusias menampung segala keluh dan pujian. Rata-rata, semuanya mengatakan bagus, kapan digelar lagi, heboh dan semacamnya. Celanya belum ada. Semua senang dengan persembahan pembuat acara. Menjadi besar kepala kah kemudian mereka? Entahlah, namun balasan email-email itu ditanggapi dengan bahasa standard yang terkesan dipaksakan dan terlalu berbasa-basi. Hingga, sebuah ...