Skip to main content

Posts

Lelaki : Seriously Relationship

S aya pernah ditanya, apa sudah benar-benar sanggup untuk berada pada satu jembatan dengan orang yang saya kagumi.  Kagum. Begitu gambaran paling singkat untuk memahami segala ketertarikan dengan sesuatu. Kita yang melongo dengan keindahan gedung-gedung di kota-kota besar dunia. Tercengang dengan panorama alam yang  menakjubkan, yang tersaji lewat National Geography chanel di televisi, dan mengelus berkali-kali photo keindahan macu picu atau everest di majalah. Dengan teknologi informatika yang semakin hari semakin memanjakan jemari. Hanya dengan torehan ujung jari, dunia bisa dijelajahi. Kite terpesona dengan segala kemajuan jaman yang semakin membuat iri.  Demikian pun dengan ketertarikan kita terhadap orang lain. Perasaan kagum mencuat terlebih dahulu dalam benak. Kenapa ada cinta pada pandangan pertama? Saya bahkan tidak percaya dengan hal itu. Pesona dan kekaguman, sering diartikan sebagai cinta. Kita kagum dengan kecantikan dan ketampanan seseorang, atau terpesona dengan kemole...

Lelaki : Pengakuan

S aya pernah dua kali kehilangan yang sangat besar. pertama ketika ayah saya meninggal karena sakit lama yang beliau hidap dan tak kunjung sembuh. Ketabahannya, dalam sakit, membuat kami, anak-anaknya mengerti, kejam hidup dalam kungkungan kemiskinan. Uang seakan menjadi benda paling menakutkan untuk dihitung dalam dompet kami. Duka akibat kepergian itu, meskipun hanya dalam hitungan detik, membekas dalam tiap sudut rumah kami yang bambu. Dia menjadi noda, seperti jelaga yang mengapung disudut-sudur dapur Ibu yang tidak berubin, hanya berlantai tanah. Jelaga itu, makin hari makin tebal. Hitam dan suram. Dan kepergian itu juga seperti air yang merembes dari celah-celah genteng rumah yang bocor karena tidak pernah diperbaiki. Umur tuanya memberi jalan masuk bagi air hujan dingin untuk mencari kehangatan dalam rumah. Noda kepergian itu, bahkan masuk dalam setiap sudut lemari, didalam tiap piring makan kami, berbaur bersama nasi dan sayur yang menjadi menu tiap hari. Dia merengsek masuk da...

Lelaki : Dan Krakatoa..

Ubur-Ubur, Brownies dan Krakatoa. Kenapa saya harus pergi kesana? Bukankah masih banyak tempat lain yang lebih menarik, lebih aman dan lebih bersahabat untuk dikunjungi? Begitulah. Berkali-kali pertanyaan-pertanyaan itu terbesit, ketika perjalanan ini baru akan dimulai. Berulang-ulang saya mencari informasi tentang lokasi ini lewat internet, membaca kembali buku Simon Winchester berjudul Krakatoa, sampai kemudian memutuskan berangkat dan meminjam snorkel dan google dari om Timmy. Saya siap. Mari berangkat. Pelabuhan Canti di Kalianda, Lampung Timur. Pagi ini, kami serombongan menginjakkan kaki di dermaga kecil Canti. Hamparan langit kelabu dan air jernih seluas-luasnya terhampar di depan mata. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta dengan bus AC yang terlalu dingin, udara disini cukup bersahabat. Satu persatu kawan-kawan satu rombongan berjumlah 30 orang itu, mempersiapkan diri. Keriuhan terjadi diwarung-warung makan yang menawarkan makan pagi b...

Lelaki : Pulau Perak, Surga Tersembunyi Di Laut Jakarta

Pulau Perak, Surga Tersembunyi Di Laut Jakarta L aut memang bukan dunia saya. Selogan Nenek Moyangku orang Pelaut, hanya menjadi nyanyian kala gundah dating, atau saat iseng sudah tidak ada playlist yang harus dinyanyikan. Buat saya, ketakutan terhadap air banyak, seperti ketakutan saya dulu terhadap ular. Kini, ular sudah bukan menjadi persoalan lagi, sedikit-sedikit, sudah bisa dihilangkan dalam benak phobia saya. Tapi air, selautan, wah.. itu ancaman terbesar diotak saya. Membayangkan tubuh terhempas dalam kubangan besar bernama samudra, membuat saya bergidik. Meski saya menikmati betul film-film bawah laut. Membaca DiveMag setiap bulan dikantor, serta berteman dengan kawan-kawan diver, namun itu tidak menjadi jaminan saya bisa survive sendirian dilaut. Kalau disuruh memilih, biarkan saya menjadi dingin digunung, atau terhempas dibebatuan dengan debu-debu kemarau di pegunungan, ketimbang harus bersukaria dengan air asin yang melahap badan seperti mulut monster besar...

Lelaki : Menjadi Bijaksana

aku tidak akan lagi pernah menyangkal bahwa usia ku sudah tidak muda lagi. waktu telah membawa begitu banyak pengalaman yang tidak mungkin bisa targanti oleh apapun. pahit dan manis kehidupan, seperti butiran tasbih yang beruntun sambung menyambung tidak kenal putus. meskipun hanya berjumlah sembilan puluh sembilan, namun dia kembali lagi ke satu, kemudian dua, tiga dan seterusnya. tanpe pernah putus. perjalanan hidup, seperti sebuah perjalanan mendaki gunung. diawal, semua beban terasa berat betul. tidak ada satu pun beban yang terasa ringan. bahkan, sebuah sendok atau sejumput sayuran yang kita bawa, sudah merupakan beban yang membuat tulang belakang terasa semakin mengkerut. membuat dengkul terasa semakin susah bergerak. dan di pertengahan, semuanya akan berasa menjadi sesutu yang biasa. berat beban adalah sebuah keniscayaan yang memang seakan menjadi hal yang biasa. kita biasa membawa beban itu, dan tubuh menjadi terbiasa memikul beratnya. apalagi yang menjadi tidak biasa keti...

Let's Play with Night!

hari senja mentari menitip salam kepada malam lewat gerimis yang sembarang datang menangiskan kebisuan gunung-gunung bersama burung malam yang terbang rendah angin meniupkan belaiannya yang lembut membelai pribadi-pribadi kesepian membalutnya dengan sejuk dan damai dan matahari kian surup dibatas cakrawala menyisakan bekas jingga yang sendu mentari mengakhiri tugasnya hari ini memberikan anugerah dan rejeki lewat sinar yang jatuh rata ke bumi (bmkr/110113)

Lelaki : Irinya Aku Berhaji

Separuh agamamu ada di ibadah Haji. Begitulah senantiasa aku mendengar ucapan orang-orang tua pendahulu ku. Berhaji nampaknya selalu menarik buatku untuk menyimaknya. Kejadiannya, bermula ketika sebuah buku berjudul "Hajj" yang aku lupa siapa pengarangnya, raib di curi bersama dengan dicurinya tas ku, beberapa tahun yang lalu. Dalam buku setebal lebih da ri seratus halaman itu, dengan jelas di tuliskan risalah perjalanan haji dari hari ke hari. Nikmatnya ibdah di Masjidil Haram yang tekenal itu. Atau melawat dan berjiarah ke Makam Rasul di Madinah. Ibadah haji, memang disuratkan untuk orang-orang yang mampu. Baik secara finansial, mental dan juga tentu saja fisik dan kesehatan yang prima. Bayangkan saja, lebih dari 20 hari, orang Indonesia yang yang tebiasa hidup dalam lingkungan tropis harus berjibaku dengan panas nya tanah arab, atau bahkan dingin yang menusuk disana. Itu adalah jihad dunia yang sangat besar. Jihad menahan segala keluh kesah dan kesusahan selama menghadapi...

Lelaki : Menjadi Lelaki Sebenarnya

S ering betul, kita menyaksikan sederetan orang berbadan besar, memakai kaos ketat dengan lengan yang berotot dan bertampang sangar, hilir mudik disekitar kita. Mereka menjadi pusat perhatian karena badan bagus dan otot besar yang menyembul. Menjadi simbol kekuatan lalaki yang sering kali menjadi tendensi kekuatan dan penarik pesona kaum perempuan. Bahkan, lihat saja model-model di televisi, mempertontonkan body bagus yang menjadi kebanggaan. Ajang pemilihan model sebuah product susu pun, yang dikhususkan untuk para lelaki menjadi ikon dan penarik pasar yang handal. Kemudian, bagi orang-orang yang jeli memanfaatkan moment, ini adalah indikasi untuk membuat jaringan busines baru. Maka, berdirilah pusat-pusat kebugaran diseluruh penjuru tanah air. Bukan hanya di mall-mall yang bertarif jutaan rupiah, di ujung gang sempit dan buntu di suatu pemukiman kelas gang pun, bisa kita temui. Nampaknya, mempunyai badan bagus dengan otot-otot yang menyembul keluar menjadi mimpi banyak lelaki di duni...

Lelaki : Mendengarlah Lebih Banyak

Tidak ada satu penciptaan pun di dunia ini yang tidak terencana. Artinya, Tuhan Yang Maha Teliti, telah memperhitungkan setiap detail dalam penciptaan dunia ini. Apalagi yang menyangkut dengan manusia, si mahluk paling sempurna. Dibandingkan dengan binatang dan ciptaan lain, coba bayangkan apa ruginya menjadi manusia. Kalau jadi gajah, kita akan hidup di hutan saja dan di kebun binatang saja, itupun tergantung dari campur tangan manusia. Kalau jadi anjing, kita mengandalka n juga belas kasih manusia. Meski urusan hidup sudah diatur, namu n nyatanya, campur tangan manusia menjadi dominan dalam segala aspek. Namun mengertikah kita ketika ternyata telinga kita dua dan hanya ada satu mulut. Seyogyanya, dua lebih berguna dari satu. Dua telinga, seyogyanya kita lebih banyak mendengar dari pada bicara. Banyak sekali peringatan dalam pepatah-pepatah yang kita dengar tentang bahayanya berbicara banyak atau terlalu banyak. Mulut mu harimaumu. Sosok harimau masih menjadi momok menakutkan dalam ke...