Skip to main content

Posts

Perjalanan 5: Kemah yang Merapuh

D alam kesendirian, manusia, konon berfikir lebih jernih. Membiarkan kapasitas dan energi yang mengaliri syaraf otak bekerja lebih maksimal. Tanpa interupsi. Semua berjalan autopilot, tanpa ada komando yang melarang atau mengelabui. Sebuah tenda lusuh, hampir roboh tersembunyi dibalik semak-semak yang rimbun. Dari jalan setapak yang biasa dilalui orang, mustahil melihat tenda tenda hijau tua dengan motif loreng ini. Aku mendekat. Tenda itu seperti kosong. Bukan baru. Tapi sudah beberapa lama. --- Aku terbangun ditendaku, ketika kicau burung riuh bernyanyi. Udara masih terasa amat dingin membuat dinding-dinding tendaku berembun. Sebagian airnya menetes-netes sisa hujan yang jatuh dari dedaunan. Api unggun yang semalam menyala menghangatkan, sudah betul-betul padam. Menyisakan abu kehitaman yang halus, yang sesekali beterbangan disapu angin pagi. Lelaki itu pasti kembali ketendanya ketika aku tertidur. Diantara dedaunan kering didepannya, aku melihat sebilah belati penuh ka...

Perjalanan 4: Misteri Hutan Bambu

Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, bukan? Dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, Dia berperan sangat besar. Menambahkan kekuatan melalui doa-doa yang kita panjatkan. Melalui petuah-petuah yang tersurat dan tersirat. Demikianlah Ia menggerakkan setiap unsur dalam dunia ini. Lelaki yang ku panggil dengan Akang itu, menyeruput kopi dalam gelas enamel sekali lagi. Tatapannya seketika menjadi begitu teduh. Tidak. Ini bukan teduh seperti seorang bapak kepada anaknya. Tidak seperti seorang Ibu kepada putra putrinya. Tatapan itu, seperti dingin. Yah. Aku yakin sekali itu adalah tatapan nanar yang dingin. Dalam keremangan api unggun yang menjilat-jilat udara disekitar, cahaya mata itu menembus tajam. Membelah gelap. "Akang belum ngantuk?"  Aku membuka obrolan. Menyadari kesunyian diantara kami berdua semakin lama semakin dalam. Aroma bunga yang tadi ku cium, timbul tenggelam dipermainkan angin.Tak begitu jelas, bunga apa yang begitu semerbak ditengah hutan begi...

Perjalanan 3 : Yang Tidak Pernah Pulang

Kunang-kunang berpendar untuk mengisyaratkan bahaya. Api unggun yang kami bakar juga demikian. Lalu, apakah kami sedang dalam bahaya? " Kamu dari mana?" dia bertanya dalam hembus nafas dan asap rokok yang sesaat hilang ditelan gelap. Gemeretak kayu terbakar dan percikan bara terbang, dihembus angin malam yang kian dingin.  " Jakarta. " hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku. " Kamu?"  " Dari keluarga tidak baik!" kemudian tertawa terbahak-bahak. Sial betul. Pertanyaanku dijawab dengan main-main. Aku saja sudah memberi jawaban yang jurur. Batinku meruntuk. Namun, aku juga tertawa, tidak karena lucu. Mungkin kesal, tepatnya. " Jangan terlalu serius lah. Santai aja," lanjutnya.  Suara burung hantu itu kembali terdengar dikejauhan. Kali ini, nadanya seperti lagu yang sedih. Kami diam. Mendengarkan. Atau mungkin mencoba menterjemahkan, apa yang dia ucapkan dalam suaranya yang lirih itu. Apakah itu lagi kesedihan? Kesendir...

Cerita Dari Tepian Jakarta

B erapa kali aku harus mengatakan kepadamu, bahwa hidupku tidak seperti apa yang engkau lihat sehari-hari. Aku membungkus semuanya dengan rapi, sehingga kerut-kerut kahidupan tersembunyi dengan baik. Tanpa cela. Dan itu, berhasil menipu semua orang, bukan? Kereta api lokal Jakarta-Purwakarta yang akan Aku naiki belum lagi datang. Stasiun hari itu penuh sesak dengan calon penumpang. Aku duduk ditepian kursi panjang ditengah peron. Memasang headset dan memutar lagu dari spotify seperti biasa. Menatap lalu-lalang orang yang hilir mudik mencari tempat duduk atau menyapa rekan dan kenalannya. Bapak tua pedagang jam, yang biasanya duduk di tangga dekat peron sebalah ujung, belum lagi muncul. Apakah dia hari ini tidak datang? Sakit kah? Atau mungkin dagangannya, yang dibeli dua hari lalu masih tersisa, jadi tak perlu belanja lagi? Dan Ibu penjual baju muslim yang bersuara keras sekali juga belum nampak.  Aku yang bolak-balik satu kereta dengan mereka, hafal betul jadwal me...

Lelaki: Anjing Dalam Kelas

Aku mendengarkan kata-katanya dengan seksama. Memilih nya satu-satu kemudian mencoba merangkainya dengan kata-kataku sendiri. Tidak. Aku tidak sanggup. Perbendaharaan kataku tidak akan mampu mengingat atau merangkai kata seperti yang baru saja dia lontarkan. Terlampau sulit. Mungkin juga kasar dan tak beraturan. Ruang kelas itu mendadak sepi. Perempuan yang selama ini menyebut dirinya pengajar itu, mengibas rambutnya, kemudian duduk pada kursi. Terdengar bunyi derik, ketika tubuh tambunnya menghantarkan massa pada permukaan dudukan kursi. Menjerit. " Ada lagi yang mau disampaikan?" tantangnya dengan muka datar. Sekejap hening kembali mengisi ruang. Ada lebih dari lima belas orang termasuk dirinya didalam ruang itu. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri. " Jika masih, gua kasih kesempatan kalian untuk bicara. Kalau tidak, gua yang akan bicara," lanjutnya kemudian. Hening. "Saya akan meneruskan yang tadi. Tentang persiapan event kita...

Lelaki : #rempakem - Sebuah Catatan Sinis

Catatan berikut ini, merupakan kultwit saya, di media sosial twitter, lewat akun @boimakar, Berisi, segala kegelisahan tentang dunia pendakian kita yang carut-marut di segala sektor.. pendaki gunung banyak.. yang sadar lingkungan dikit #Days pake carrier gede-gede, pake sendal jepit, naek gunung... bikin celaka diri sendiri, nyusahin orang laen #rempakem nulis2 di batu2 pake cat/spidol..kulit kayu ditulisan nama sendiri dan pacarnya "[name] loves [name] ato [name] was here #rempakem berasa paling paham sama gunung anu dan itu, pada kali naek ke dua .. #rempakem kalo cerita pendakian sama orang, dah kyak cuman dia yang pernah kesana.. fyuuh.. pdhal berangkt juga nebeng temennya #rempakem bikin cerita2 serem tentang gunung anu dan itu, supaya orang ga naek kesana, jd cuman dia yang bs cerita #rempakem naek gunung pake jeans, yg kalo basah beratnya minta ampun .. tp dia berasa modis #rempakem naek gunung wangi pake parfum, padahal dia ga tau, ka...

Lelaki : TransJakarta Yang (Tak Lagi) Nyaman

Sore Jakarta | Photo by @boimakar B eberapa hari ini, rasanya Transjakarta Busway, menjadi sangat tidak bersahabat. Prilaku orang-orang yang naik, suasana halte yang semerawut, hingga oknum-oknum petugas yang terkesan cuek dan tidak ambil pusing dengan keadaan calon penumpang dan laporan hal-hal yang terjadi. Saya dan istri, kerap kali harus menggunakan sarana transportasi umum untuk berangkat dan pulang bekerja. Hampir pasti, setiap hari, kami harus berjibaku untuk bisa sekedar masuk dan berdiri didalam armada transjakarta. Kami berangkat, dari halte transjakarta LIA Pramuka, di koridor 4 yang mengubungkan Pulo Gadung – Dukuh Atas. Untuk kemudian, berpindah ke koridor 1, menuju Blok M. Dan pulang dengan rute sebaliknya. Kurang dari jam 6 pagi, kami sudah ada didalam halte Transjakarta Lia Pramuka. Beberapa kali, di halte BPKP, karena posisi rumah kami, yang ada diantara kedua halte tersebut. Menunggu armada bus disini, rasanya lebih sering menjengkelkannya dari pada sena...

Perjalanan 2 : Burung Hantu & Kunang-Kunang

Bulan sepertinya enggan benar muncul kemudian. Hanya bintang-bintang yang kedap kedip dari angkasa. Bertanda cerahnya malam. Sosok bulat itu sendiri, malu-malu menyembul dari awan yang kemudian berlari keawan lain. Kunang-kunang beterbangan disekitar rimbunan bambu depan tendaku. Gemeretak kayu yang diinjak dibelakang tenda, berganti dengan sesosok tubuh tinggi yang perlahan jongkok. “ Maaf, apa boleh saya ikut ngobrol disini?”   photo istimewa Saya yang terperanjat, memegang garpu makan itu kuat-kuat. Cukup untuk membala diri, ketika memang hal buruk terjadi. Saya mengangguk. Lelaki itu tersenyum. Kemudian mengambil beberapa kayu kering yang berserak tidak jauh dari tenda. Dan membakarnya, menjadikan api unggun. Terampil sekali, pikirku. Dia menambahkan beberapa potongan kayu yang cukup besar, sambil berkata, bahwa cukuplah untuk menemani kami ngobrol hingga malam nanti. “ Sudah makan?” saya bertanya. Membuka suasana. Dia menggeleng, tapi menolak ketika saya a...

Lelaki : Perjalanan 1 : Hutan Pinus Dan Elang Jawa

“ Jangan lari di jembatan gantung itu! Bahaya!” Suara itu berat berteriak dibelakang. Putus-putus seperti berlari juga. Jalanan batu yang dinaungi pohon-pohon bambu lebat, membuat malam ini terasa begitu mencekam. Redup rembulan tak mampu menembus kungkungan rapat daun-daunnya yang bertumpuk rapat. Aku menghentikan langkah ku tepat di ujung jembatan gantung itu. Jembatan yang memanjang diatas sebuah sungai berair deras, meski tidak kelihatan suaranya terdengar jelas, serta bebatuan yang samar kelihatan karena cahaya bulan. Menunggu suara yang dari jauh menghentikan langkahku. Dalam sepi begini, bisa saja itu rampok yang memanggil. Aku berjaga-jaga dengan menggenggam belati yang dari tadi bersarang di pinggang. Pisau serbaguna yang biasa kami pakai jika berkemah. photo special Pelan-pelan, sebuah cahaya datang dengan cepat. Membelok tepat dibawah jembatan. Sesosok tubuh tinggi besar dengan head lamp yang mengorot kearahku. Hingga aku tidak bisa mengenali raut mukanya. Ak...