Skip to main content

Posts

Lelaki : Tahun Baru? Apanya yang Baru?

Saya pernah membaca sebuah buku, usang memang, tentang kematian sejumlah orang di tahun baru perengahan 90-an, disebuah negara di satu belahan planet biru ini. Kematian mereka, tidak banyak didengar orang. Atau mungkin bisa jadi, orang-orang itu yang menutup telinga mereka rapat-rapat dengan nyanyian dan hingar bingar musik pergantian tahun, entah terbakar dan meledak diantara ribuan kembang api yang terbakar. Orang-orang itu, tidak pernah merasakan kegembiraan meriahnya pesta. Bertaburan semerbak aroma parfum dah hingar bingar musik yang menghentak disela bahana tawa yang memecah malam. Mereka, yang ketika belum mati itu, tidak tahu, bahwa dibelahan dunia yang lain, kembang api dibakar, kemudian menimbulkan bunyi letusan yang disambut dengan sorak sorai dari pengunjung, menandakan tahun berganti. Dengan beriringan doa harapan semoga mendapati kehidupan lebih baik ditahun yang baru. Dengan bekal kebahagaiaan dan optimisme untuk dapat menapakinya dengan semaik baik. Tapi, apa artinya...

Lelaki : Penghargaan & Kritik Diri

Seringkali, kita merasa kecewa dan marah. Ketika tahu bahwa kita tidak lebih dihargai dari seorang artist di restoran. Pernahkah mengalami, seorang pelayan rumah makan yang lebih memperhatikan seorang selebritis yang juga, kebetulan makan ditempat sama dengan kita? Atau seorang satpam di pusat  pertokoan yang membukakan pintu kepada seorang public figure, dan cuek saja ketika kita lewat setelahnya, serta harus membuka pintu sendiri? Marah, itu memang manusiawi. Tidak normal rasanya, melihat orang yang tidak pernah marah. Kok ya, dunianya jadi datar sekali. Dan bukannya, marah yang disimpan terlalu dalam juga berbahaya, ketika dia meledak nanti? Kobaran emosi yang tidak terekspos, akan menjadi api  yang membakar pelan-pelan, dan membuat emosi dan perangai tidak stabil. Bisa jadi.. Kapan saatnya, kita harus melampiaskan marah, itu juga menjadi "PR" untuk kita. Saat yang tidak tepat, membuat marah menjadi sesuatu yang menjijikkan, tidak intelek, dan bahkan bisa jadi seperti kam...

Lelaki : Menerima dan Memahami

Keputusan apa yang pernah anda buat dimasa lalu, sehingga menjadi penyesalan tiada terperi hingga dimasa kini? Pernahkah kita menyalahkan nasib dan keadaan karena ketidakmampuan untuk menjalani sesuatu, sehingga semuanya jauh dari perkiraan dan gabaran masa depan? Seorang remaja Pria, menemui si Lelaki, dan bercerita tentang keseharian hidup yang merasa terkucil jadi pergaulan, karena status sosial yang berasal dari lingkungan yang biasa-biasa saja. Dalam keluarganya, Si Remaja Pria harus merelakan masa mudanya untuk menghidupi keluarganya. Mengorbankan waktu bergaulnya, ketika begitu banyak teman-temang sebayanya menghabiskan waktu berjam-jam nongkrong dicafe, atau nonton, dia sudah sibuk dengan peraduan nasib demi ibu dan adik-adiknya. Bapaknya, sudah lama meninggal. Hingga, meski bukan anak paling tua, karena kakaknya sudah menikah dan punya keluarga sendiri, dia harus rela hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah lanjutan atas. Kemudian menjadi pekerja pada salah satu pe...

Lelaki : Siapa Dia?

Mulanya semua seperti sebuah rentetan puisi dalam sebuah buku cinta. Entah itu Rumi atau Ghibran.  Apa masih ada beda diantara kedua mahluk pecinta itu? Masing-masing tak pernah ada yang pernah paling sempurna. Namun dari keduanya, berbelok kepada Chairil. Pria yang tidak pernah gemuk, perokok, dan playboy kelas kereta api. Namun, semua ucapannya jujur mengalir. Tak pernah ada ketamakan makna yang coba ia utarakan. Semuanya mengalir seperti embun pagi tertimpa temaram mentari. Atau mengalir jujur nada-nada elok dari Taufik. Lelaki kalem yang tak pernah terlihat senakal Chairil. Namun menyimpan karisma hebat yang tidak pernah pudar oleh jaman. Ia adalah simbol keteguhan makna yang mencuat pelan-pelan dalam bait-bait tak ber rima. Irama, lebih seperti jejeran batang-batang rumput yang bergoyang diterpa sepoi angin. Irama, adalah madu yang menetes dari tempat mematikan... Kenapa setiap pecinta memuja dunia? Dan setiap puisi adalah pujian dari kegaduhan hati mengenang pasa...

Lelaki: Mengerti Sepenuhnya, Berbuat Seperlunya

Pacar saya marah. Bertanya kepada teman-teman saya, kenapa saya berubah. Mempersoalkan sesuatu yang sudah lama sekali terjadi, kemudian menambahkan bumbu sinetron dalam aneka rasa dan aroma sehingga semakin asam, menambahkan sebaris nada-nada abstrak sehingga terdengar remix. Meski itu adalah hal lama yang sudah pernah didengar, namun seperti alunan irama baru yang asing ditelinga, mencoba untuk diterjemahkan otak dan mentok pada satu kata, basi. Komitmen untuk menjalin hubungan, seringkali terbentur dengan perbedaan-perbedaan dan kenangan masa lalu yang sulit untuk dihapus. Kadang kala, ia menjadi bumbu yang membuat sebuah komitmen menjadi semakin "berasa". Namun, lebih banyak yang kemudian tidak bisa dikecap lidah dan menjadikannya sebagai"bakteri" atau mungkin parasit. Sudah kah kita benar-benar mengerti? Mau mengerti atau bahkan pada tingkatan paling bawah adalah mencoba mengerti tentang sesuatu? Mengerti yang sebenarnya, dalam pandangan saya adalah, ket...

Lelaki : Kodrat & Tanggung Jawab

Pernah dibilang nggak normal sama teman-teman? Karena memasuki usia lebih dari seperempat abad, masih menjomblo?Atau pernah dibilang hal yang paling menyesakkan ketika ternyata mereka menganggap kita berorientasi sexual beda? Pertanyaan itu, bisa saja muncul dan dilontarkan kepada siapapun. Saya, anda, atau siapapun didunia ini, oleh siapa saja didunia ini? Seorang kawan, menyembunyikan pernikahannya kepada saya. Meski, kami begitu dekat, namun tingkat sakralisme dan ekslusifitasnya ternyata membuat dia rela, tidak memberitahukan hal itu kepada saya. Dan ketika ditanya, dia menjawab, kalau saya dia anggap sudah tahu, dari media sosial yang dia punya. Kecewa? Tidak juga. Setiap manusia berhak untuk memberikan informasi, kepada siapapun dan kapanpun dia mau. Lagipula, ini adalah tentang dia dengan pasangannya, dan tak terkait langsung dengan saya. Disamping, dia sedang membawa dirinya menjalani kodrat sebagai manusia utuh. Pastinya, dia membutuhkan ruang lebih untuk bisa bernafas dengan...

Lelaki : Yang Kecil dan Menjadi Besar

Sudah pernah nonton film Real Steel? Kalau belum, cobalah tonton film fiksi besutan sutradara Shaun Levy dengan producer kondang Steven Spielberg ini, layak untuk jadi nominasi film terbaik. Bercerita tentang ayah dan anak yang terpisah karena suatu masalah, hingga mereka dipertemukan ketika si ibu meninggal dan hak asuh anak tersebut diperebutkan. Si ayah, kemudian menyerahkan hak asuh anak lelaki berumur sebelas tahun tersebut kepada kakak dari ibu, atau bibi si bocah tampan itu, dengan berbagai embel-embel. Namun, minta diperbolehkan untuk merawat si Bocah selama paman dan bibi nya pergi ke Italia. Singkatnya, si anak menghabiskan waktu bersama ayahnya, yang mantan petinju nomor dua terhebat di Amerika, dan menjadi "dalang" robot yang bertinju. Mengambil setting tahun 2024, nampaknya robot memang sudah m enjadi barang yang tidak aneh lagi. Pertemuan mereka dengan robot sparing bernama Atom, membuat mereka semakin erat secara emosi dan ambisi. Si bocah, yang dengan bermoda...

( Old Post) Pangrango, Sebuah Cerita!

Mencumbu Cantigi Dua Puncak Sebuah catatan perjalanan Sore itu, petir menggelegar dengan kencang. Langit cerah berganti dengan gumpalan awan abu-abu dan kehitaman. Bergerak dengan cepat tersapuu angin sore. Hutan kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, seketika menjadi gulita. Daun-daun berhenti bergoyang, seperti tegang menantikan apa yang akan terjadi setelah petir berteriak dengan kencang. Suara burung-burung lenyap. Tinggal kabut tipis menari-nari dengan gembira. Entah tidak peduli, atau terbang mengamini pekikan guntur. Hari itu, kami akan turun kembali ke pos Cibodas. Setelah kemarin pagi kami naik ke Pos Kandang Badak. Ah, memang gila rasanya. Dalam satu bulan kemarin, aku sudah menginjakkan kaki dipuncak Gede dua kali. Sama persis ketika msa-masa perkenalanku dengan dunia pendakian gunung. Sabtu pagi-pagi sekali, aku sudah bergerak menuju titik pertemuan kami di UKI. Mamang, untuk pendakian ini, aku hanya ikut saja. Semuanya sudah diatur oleh Om Pur. Seorang kenalank...

Lelaki; Menemukan mu

Sebuah pantai. Deretan nyiur tak henti diterpa angin. Gugusan karang membentuk dinding tinggi mencakar langit. Meski udara panas menyengat, hembusan angin laut, berbau garam dan lengket yang menerjang, nyatanya sanggup meredam energi bakar matahari. Kerang-kerang mati yang terdampar seretan ombak kepantai, menjamur, berserak seperti tak berguna. Tapi lihat lagi dengan baik. Warna-warna memikat dan bentuk lucu, bisa dibuat aneka rupa sesuka hati. Kita bergandeng tangan. Menyambut debur ombak yang tinggi. Beberapa percik masuk ke mata. Beberapa lagi tertelan. Saya meludah berkali-kali. Mengusir asin yang terus merengsak masuk dalam tenggorokan. Mengucek mata  yang berkali-kali mengerjap mengusir perih. Baju yang basah, dingin membungkus. Namun hati kita seolah hangat. Menjalar energi yang disaring dari ultraviolet, menelusup lewaat tangan kita yang bergandengan. Saya, berasa memasuki dunia yang sudah begitu lama terlupa. Mimpipun, saya tidak pernah untuk menggandeng tanganmu, membela...

Lelaki ; Kenapa Harus?

hidup itu, bisa nunggu kan?  kita bisa aja nunggu bus yang datang berikutnya kalo pas lagi antri di halte busway yang kosong. tinggal suka-suka kita aja. mao sampe duluan, tepat waktu, atau terlambat. ya, semua ada resikonya pasti. kalo kecepetan, pasti disangka rajin banget. kalo pas waktu, sering disebut perfecsionist, nah yang hobynya telat, resikonya ga dipercaya sama orang. tapi, kalo urusan perasaan? bisa gitu kalo nunggu? entahlah.  terakhir, yang terasa adalah, ketika pernyataan yang seharusnya diucapkan tahun lalu, tapi baru sekarang keluar, berbuah penolakan halus dengan alasan yang... yaah.. masuk akal. sangat logis. tapi, kan kita kudu pisahin antara logika dan hati kan. itu susahnya. pada suatu hari, kita lahir dah kayak motivator handal. ngerti gimana nangainin semua hal yang ditanya sama kawan-kawan atau siapapun yang lagi "galau".  udah kayak ustadz yang ngeluarin semua kutipan hadis dan kitab, dah kayak filusuf yang ngeluarin semua kata-kata bijak, yang nam...

Lelaki : Dunia Yang Hilang

S aya pernah, menelusur lebih dari sepuluhkilo meter, dari pagi hari hingga petang, di bibir pantai. Bercumbu dengan obak yang tidak pernah berhenti mendebum dipasir putih. Kulit saya gosong, perih. Namun kemudian, menceburkan diri dibening laut adalah pilihan yang menyenangkan. Kemudian, mendirikan tenda, membakar api unggun. Diri yang letih, lunglai dihajar angin laut yang dingin. Alih-alih masuk dalam hangatnya tenda, saya malah berbaring diatas pasir, menatap bintang-bintang yang tak terhingga banyaknya. Suara ombak yang pecah dipasir, deru angin, itulah nyanyian alam paling merdu. Pada kesempatan yang lain, saya pernah mengarungi lebat hutan. Bermodal peta dan kompas, tanpa pernah sekalipun menginjak tempat ini. Hanya cerita dari mulut-ke mulut. Hanya petuah dari warga kampung tempat kami bermalam. Bahwa akan ada danau diujung sana, bahwa ada hutan lali jiwo, bahwa ada aliran air sungai yang seputih susu mengalir ditengah hutan. Katanya, katanya, dan katanya. Namun, dalam ge...

Lelaki : Masa Lalu, Kini dan Esok

S eorang kawan perempuan, tiba-tiba menangis diujung telepon. Saya tergagap. Menunggu kata-kata pertama yang akan dia ucapkan. Hari itu, sudah pukul sembilan malam lewat empat puluh. Hampir tengah malam. Menunggu beberapa menit, dan tangis itu mereda, hanya ada dua kata yang kemudian keluar dari bibirnya. "maaf. nangis".. Sedetik kemudian, tawanya membahana, seolah masalahnya hilang mengalir bersama air matanya. " ya udah, nangis aja. kalo  ga sayang ama pulsa. tengah malem nelefon kok cuman pengen gua dengerin lu nangis diujung sono. terlalu,"  " iyaaa.. maaf kakak! aku pengen ngobrol, pengen curhat aja ama kakak ku yang bawel ini." katanya dengan centil, sama seperti dulu-dulu ketika saya bertemu dengan dia beberapa tahun yang lalu. " ngobrol apa?" " bisa ketemu gak?" " kapan?" " taon depan! ya sekarang lah. baru juga jam 9, masa udah mao tidur," runtuknya. " eh, yang bilang udah mao tidur itu siapa? epicentr...

K - Only Human

LIFE is....Another Story

Lelaki : Apa Ini Namanya?

Perasaan ini, apa namanya. Kadang, takut menyeruak tiba-tiba. Tanpa permisi. Nongkrong dibarisan depan barisan perasaan yang jika sore, meredup seiring dengan mentari yang surup ke barat. Takut itu, tak mau pergi atau bergeser. Dia didepan. Mengambil bendera merah seolah menantang matahari. Teriakan lantang dan pedang nya terhunus, mengancam. Sedetik setelah itu, ada gundah tiba-tiba bersuara lebih nyaring. Seperti mengendari sepeda motor, nyalip diantara sederet perasaan hati yang kacaunya belum lagi bisa diurus akibat takut yang tadi. Ini lagi, tiba-tiba datang tanpa permisi. Pernah sadar kapan mata akan berkedip? Mungkin seperti itu juga rasanya, kapan si gundah itu datang. Tak ada satu otot pun yang sadar. Dari sekian banyak perasaan yang berbaris membentuk bab seperti buku, mungkin ini yang tak pernah bisa diterjemahkan dalam definisi apapun. Enggan ketemu, malas memikirkan, berusaha membuang itu jauh-jauh. Yah, fikiran akan bayangan sosok yang tak pernah bisa hilang meski sudah b...