Skip to main content

Posts

Lelaki : Kejutan dan Kenyataan

http://www.stanford.edu/~grg/images/orange_flower.jpg Ada kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Betapapun kita coba menghidar, dia seperti benalu yang datang tanpa permisi. Seperti flu yang susah sekali sembuh. Semakin lama mencoba untuk diobati, dia menjadi semakin ganas, menjadi semakin menjadi. Meskipun, kenyataanya, obat yang paling mujarab adalah sesuatu yang sangat biasa. Air putih dan istirahat. Keduanya, hampir tak pernah ada harganya dimata kebanyakan kita. Ada kenyataan yang kemudian menjadi pelajaran. Terjadi berkali-kali. Seperti rentetan petasan yang meletup dikala lebaran orang betawi. Kenyataan itu, ya begitu-itu. Mengagetkan. Sering kali, kita nggak siap nerima, namun tetap harus dihadapi. Bicara tentang kejutan, ada yang menyenangkan. Ada juga yang nggak. Yang menyenangkan, meskipun terkadang bikin shock, bikin bete, toh tetap menjadi tawa pada akhirnya. Sedang yang tidak menyenangkan, akan menjadi ingatan yang menghantu sepanjang hidup. S...

Lelaki : Matahari & Harapan

http://saveimages.taoindonesia.info/2012/03/eagle-5.jpg U ntuk sebagian orang, punya mimpi adalah sebuah kemewahan. Bahkan, sebuah buku paling laris di negeri ini, mengajarkan untuk membentuk mimpi. Melihat dari sudut paling absurd tentang kehidupan yang nampak begitu mulus. Kemudian loncat dari gedung tinggi, melebarkan sayap, berharap jadi rajawali, dan bumm.. telak menghantam tanah. Ketika melihat matahari, terpikir untuk bermimpi pun tidak. Ia begitu perkasa. Membakar dengan kadar yang sudah diperhitungkan, sehingga kecil kemungkinan membunuh. Meski. kita hidup dialam khatulistiwa yang berlimpah ruah cahaya matahari. Matahari. memang tidak pernah salah memberi rejeki kepada siapapun. Panasnya tak pernah dibagi tidak adil. Seluruh alam raya kebagian jatah. Sedikit banyak. Dan untuk menjumpai matahari, tak perlu mengharap terlalu dalam. Toh, dinegara kita, dua belas jam dalam gelap bukan waktu yang lama. Teringat ketika seorang tokoh Indonesia, mengatakan, " yang misk...

Lelaki : Antara Kamu, Saya dan Mandalawangi

Mulanya, tidak percaya rasanya bisa ada tempat itu. Sebuah alun-alun sabana tidak terlalu luas, penuh bunga-bunga putih kekuningan, sungai kecil membelah ditengah, dengan air yang lebih segar dari air kemasan manapun. Tempat ini keramat. Konon almarhum Soe Hok Gie, yang belakangan ini begitu membahana namanya, karena sebuah film, mampir kesini, menghempas galaunya. Konon, tempat ini menewaskan banyak pendaki gunung, yang tegoda untuk bisa menikmati siraman matahari pagi pertama yang sendu. Perjumpaan saya pertama dengan Mandalawangi, ketika saya begitu penasaran, melihat sebuah photo yang ditunjukan seorang kawan pendaki. Dia yang merupakan relawan di salah satu taman nasional indonesia, menjembreng beberapa photo yang menawan. Semburat awan, dengan latar langit biru yang elok, serta kabut tipis membungkus pohon-pohon yang meremang ditimpa cahaya pagi hari. Sungai kecil yang berair bening, dan rumputan coklat yang masih basah oleh embun. Semuanya nampak sempurna. Beberapa kuntum e...

Lelaki : Percakapan Sore

S ore itu, kami kumpul diruang tengah kami yang sekaligus merangkap ruang nonton tipi. Tidak ada kursi dirumahku. Semua lesehan. Bermalas-malasan diatas kasur yang tidak baru lagi. Ini titipan seorang teman yang memutuskan pindah ke luar Jawa, karena pekerjaannya. Kami masih sering berkomunikasi, dengan bahan obrolan "norak" seputar kasur titipan itu. Emak, ada ditengah-tengah kami. Usianya yang sudah tidak muda, memandang anak-anaknya satu-satu. Mengacak rambut ku yang tidak bersisir jika di rumah. " Sering kali, orang bicara tentang kamu, Nak. Tentang pekerjaan mu yang mati-matian kau bela, tapi tak  nampak hasilnya. Tentang kau, yang diusiamu sekarang masih membujang," katanya lirih. " Siapa orangnya," aku menyahut pelan. " Siapapun orang nya tidak penting. Dia bicara langsung ke Emak," Hati saya berdesir. Emosi itu menumpuk jadi satu. Ingin rasanya menghajar orang yang bicara langsung didepan Emak karena saya. Saya terdiam. Meredam ...

Lelaki : Memandang Mu Terlelap

i want to be always beside you Tadinya, saya berfikir kalau itu biasa saja. Menjumpaimu setelah sekian lama tidak bertemu. Awalnya. saya merasa ini adalah pengulangan cerita yang dulu pernah ditorehkan. Alur yang sudah pernah saya baca dan saya lewati, kemudian akan kembali saya ulang. Bosan menyerang di awal-awal. Tidak pernah terpikir untuk menjadikan ini berbeda. Nyatanya. Sesaat saya diam. Memandangmu dalam temaram langit yang mulai gelap. Mengartikan tiap gurat perasaan yang sudah lama betul tidak pernah terpendar. Pesona mu masih seperti dulu. Ketika pertama kali melihatmu dengan jelas, di lembah itu. Mengerjapkan mata, merentangkan tangan membentuk pesawat terbang, kemudian berteriak, " elaaang, bawa aku disisimu," lalu terkekeh disemburat cahaya sore yang temaram. Sekelebat, mestinya saya tersadar. Ada kehidupan yang sudah lama sekali tertinggal disana. Diserakan batuan yang menjejali jalanan penuh akar. Saya pikir, saya sudah tandaskan rasa itu di batang-b...

Lelaki - Sukses Adalah ..

K awan saya yang semasa SMP dulu adalah seorang "berandalan", tukang bolos, tukang palak, tukang mabok, merokok dan sederet kejahatan masa sekolah lainnya, tiba-tiba datang dihadapan saya, berdasi biru muda, dengan kemeja dan jas abu-abu tua, menjinjing iPad. Kaca matanya, "nongkrong" dihidungnya yang memang mancung. Dulu, dia hitam dekil, sekarang, necis. Parfumnya saja, bukan murahan. Entah dibeli di Amerika atau Eropa. Entahlah.  Dia menjabat sebagai salah seorang Manager pada sebuah BUMN ternama di Indonesia. Pangling? Tentu saja iya. Saya bahkan hampir bertanya, siapa dia. Namun, beberapa sifat nya memang tidak berubah. Senyumnya, yang selalu nakal. Atau bicaranya yang keras dan nyaring.  Obrolan kami, semakin hangat dari menit-kemenit. Dia bercerita tentang betapa bobroknya sistem pemerintahan di Indonesia. Korupsi disegala bidang, bahkan di kantornya sendiri. Namun, berkali-kali dia meyakinkan saya, bahwa dia tidak terlibat. Kemudian tentang aset-a...

Lelaki : Memulai Sebuah Perjalanan

S ama saja susahnya. Memulai sebuah perjalanan, meneruskan perjalanan, atau mengakhirinya. Sama-sama penuh tantangan. Memulai langkah baru, sering kali memunculkan keraguan-keraguan. Bayangan gagal, melayang-layang dalam setiap kesempatan. Gambaran itu, semakin besar, manakala. ada orang lain yang tidak pro terhadap apa yang akan kita mulai. Kesiaan itu yang sering kali muncul terus menerus. Pada dasarnya, kita, manusia,  mempunyai kemampuan yang sama untuk menterjemahkan sebuah persoalan. Hanya seringkali, kita tak  punya banyak pengalaman untuk melihat itu dari sisi yang lain. Ketika lapar, kita berkeinginan untuk makan. Itu sebuah persoalan yang dilihat dengan cara yang wajar. Bahwa makanan untuk membuat kita kenyang itu adalah nasi, itu pun wajar. Namun, seringkali nasi menjadi sesuatu yang langka dan susah untuk di dapat, sehingga sebagai manusia yang mempunyai cukup pengalaman berfikir, kita mencari alternatif lain untuk memuaskan rasa lapar kita tersebut. P...

Lelaki : Mendadak Takut

Sederet petualangan dalam hidup, seperti rentetan peluru yang ditembakkan dari senjata api. Menerus, mengeluarkan bising, tanpa jeda. Menuju kesatu tujuan yang sering kali bahkan tidak pernah kita tuju sebetulnya. Nyasar, istilah yang seringkali diucapkan orang-orang. Tapi, apakah hati seperti peluru? Nyasar juga, ketika menunggu sesuatu? Mengenal begitu banyak orang dalam hidup, adalah anugrah yang tidak pernah terbayang sebelumnya dalam kehidupan saya. Bermacam kalangan. Selebritas, politisi, CEO, pendaki gunung, penyelam, tukang sayur, tukang becak, ojek, gelandangan di bawah jembatan tol, teman berbagai komunitas, wartawan, dan masih banyak lagi. Masing-masing, menempatkan diri pada porsi mereka dengan sekat jelas. Dan saya, harus bisa-bisa menjadi bunglon, untuk bisa membaur. Seringkali, tempat "nongkrong" mereka berbeda. Yang politisi misalnya, lebih senang nongkrong di bar mewah remang, dengan gadis-gadis ber rok mini seksi yang duduk dipangkuan mereka. Yang wartawan...

Lelaki : Malaikat, Jangan Tidur Dulu!

Kalau saya boleh minta, malam ini maunya saya mimpi terus. Jangan bangun pagi, dan jangan ada dikehidupan nyata. Dunia ini, terlalu standar jika dibandingkan dengan kehidupan dunia mimpi yang penuh dengan keajaiban. Sekarang, saya sedang bermimpi. Tentang sebuah rumah tanpa pagar. Berhalaman hijau dengan tumbuhan perdu yang asri. Rangkaian kembang aneka warna, semerbak dipagi dan sore hari. Dari halaman ini, kami bebas bermain dengan segala keceriaan, setelah sibuk bekerja berbulan-bulan. Waktu kami memang sangat pendek. Dalam beberapa bulan, pertemuan kami hanya beberapa hari. Namun, rumah kecil ini, seperti sebuah obat yang membuat kami sembuh dan menemukan kembali tujuan. Halamannya tidak luas. Rumput gajah kecil-kecil menghijau. Dia yang menyiangi. Mencabut tanaman-tanaman kecil penggangu dan memberi pupuk. Saya menyirami. Sesekali, jahil sengaja mencipratkan air dari selang itu ke tubuh mungilnya yang berjongkok. Dengan bandana merah dan nyanyian kecil. Hingga ketika air...

Lelaki : If Love Is Blind

S ore ini, saya membaca sebuah berita yang membuat saya merinding. Sebuah kisah percintaan orang biasa, diabad kini, dan orangnya masih ada hingga tulisan ini saya buat. Selama 30 tahun, sepasang anak manusia menunggu untuk bisa bertemu dan saling mengikatkan diri dalam sebuah ikatan percintaan. Anda mungkin luput membaca beritanya. Baiklah, saya kutipkan sedikit seperti dibawah ini. Yang lelaki bernama Pham Ngoc Canh, seorang berkebangsaan Vietnam yang pergi ke Korea Utara untuk belajar kimia pada tahun 1971. Yang perempuan, bernama Ri Yong-hui. Si pria, langsung jatuh cinta begitu mereka bertemu di laboratorium Hamhung. Dua tahun kemudian, Pham, meninggalkan Korea Utara dan selama 30 tahun, mereka berkomunikasi dengan surat, dengan bantuan ibu Young-hui. Pemerintah Korea melarang wargannya berhubungan dengan orang asing. Mereka terpisah. Namun dalam surat terakhir Ri Young-hui tahun 1992, dia berkata " kita mungkin sudah tua, tapi cinta kita akan tetap muda". Ri diberitaka...

Lelaki : Hemingway dan Bis Tua

Jalanan remang. Lampu-lampu berwarna kuning, menerangi jalanan yang masih basah sehabis diguyur hujan sore tadi. Genangan air masih terlihat dibeberapa tempat. Dan berserakan tiap kali tergilas roda-roda kendaraan, yang seakan tidak pernah berhenti. Saya duduk di bangku paling belakang sebuah bus tua kumuh. Sebelah saya, kosong. Joknya, sudah tidak mulus lagi. Kain putih setengah sandaran yang bertuliskan bacaan doa perjalanan, terlihat kumal. Namun, masih jelas terbaca sederet huruf arab dan sederet huruf latin dibawahnya. Saya, menyerahkan diri pada Tuhan, dalam perjalanan ini. Dari jendela, yang kacanya bisa digeser dengan mudah itu, saya melihat lalu lalang orang-orang. Dalam diam. Semua bergelut dalam pikiran masing-masing. Telepon genggam berdering lagu india, terdengar nyaring dari bangku depan, diikuti dengan suara halo dan kemudian halo lagi, berulang tiga kali, yang nyaring. Seorang perempuan, duduk disebelah saya. Sikapnya lugas. Lincah bergerak dan santun permisi diantara k...

Lelaki : Diujung Sabar

K ata orang, yang namanya sabar itu, seharusnya tidak berujung. Dia harus merupakan sebuah siklus tanpa batas. Sabar itu, tak ada ukuran pastinya. Yang jadi pertanyaan, adalah kenapa Tuhan menciptakan rasa sabar itu, seperti menciptakan buih, sedangkan menciptakan benci seperti gelombang samudra.. Saya mengharapkan sebuah peristiwa penting terjadi belakangan ini. Kejadian, yang berharap kepada perubahan sebuah prilaku, perubahan sebuah etos yang selama ini digadang-gadang. Buat apa pujian? Toh, semuanya bumbu dalam sebuah pembicaraan yang sudah hampir mati. Dia bahkan kelihatan seperti pertikaian emosi antara manis senyum dengan muntah tertahan yang akan dihempas begitu menemukan tempat yang pas. Letih betul hati menunggu permainan itu. Dia mengombang ambing separuh jalan hidup. Menjagakan tidur. Melaparkan makanan. Dia, seperti bius yang melenakan, justru sebelum darah memendarkan racunnya dalam tubuh. Ibaratnya, mencium aroma sajian, dan kenyang sebelum memakannya. Yah, itu per...

Bolehkah Terus Bermimpi?

Saya terenyuh. Merenungi lagi baris-baris kata yang kau tuliskan tentang perasaan mu kepada ku, jauh dulu. Ada kekeliaran imajinasi yang berpadu menjadi harapan yang mendebur-debur seperti ombak kepantai. Teratur, tak pernah ada yang mau loncat lebih dahulu. Rapi susul menyusul seolah itulah takdir yang memang harus dijalani. Ada rumah kecil diujung kota. "Mlipir" dari kebisingan ibukota yang tidak pernah tidur. Menyajikan udara bersih lebih banyak untuk dihirup rongga dada. Ada anak-anak kecil berlarian riang, dalam seragam sekolah meraka yang rapi. Berteriak memanggil yang lain, dengan botol air minum yang terombang ambing dipinggang. Tak ada yang mengantar, mereka belajar untuk mandiri. Itu, dijalan depan rumah kita. Secangkir kopi pahit tanpa gula, tersaji dimeja kecil kita, yang kita pakai sebagai meja makan, tempat "nongkrong" ketika pulang bekerja, ketika bercanda merencanakan untuk punya momongan. Dirumah ini, kita adalah tuan sekaligus pembantu. Halama...

Lelaki : Bolehkah Terus Bermimpi?

Saya terenyuh. Merenungi lagi baris-baris kata yang kau tuliskan tentang perasaan mu kepada ku, jauh dulu. Ada kekeliaran imajinasi yang berpadu menjadi harapan yang mendebur-debur seperti ombak kepantai. Teratur, tak pernah ada yang mau loncat lebih dahulu. Rapi susul menyusul seolah itulah takdir yang memang harus dijalani. Ada rumah kecil diujung kota. "Mlipir" dari kebisingan ibukota yang tidak pernah tidur. Menyajikan udara bersih lebih banyak untuk dihirup rongga dada. Ada anak-anak kecil berlarian riang, dalam seragam sekolah meraka yang rapi. Berteriak memanggil yang lain, dengan botol air minum yang terombang ambing dipinggang. Tak ada yang mengantar, mereka belajar untuk mandiri. Itu, dijalan depan rumah kita.  Secangkir kopi pahit tanpa gula, tersaji dimeja kecil kita, yang kita pakai sebagai meja makan, tempat "nongkrong" ketika pulang bekerja, ketika bercanda merencanakan untuk punya momongan. Dirumah ini, kita adalah tuan sekaligus pembantu. Halaman ...

Huma Diatas Bukit

Seribu rambutmu yang hitam terurai Seribu cemara seolah mendera Seribu duka nestapa di wajah nan ayu Seribu luka yang nyeri di dalam dadaku Di sana kutemukan bukit yang terbuka Seribu cemara halus mendesah Sebatang sungai membelah huma yang cerah Berdua kita bersama tinggal di dalamnya Nampaknya tiada lagi yang diresahkan Dan juga tak digelisahkan Kecuali dihayati Secara syahdu bersama Selamanya bersama selamanya ------------------------------------------------------------------ Tidak ada yang salah dari lirik lagu yang dibawakan dengan suara khas berat milik Achmad Albar itu. Semuanya selaras, berpadu dalam simphoni yang menawan. Bukan.. bukan irama atau melodi nya yang membuat aku terus menerus memutar lagu itu dalam keseharianku. Meresapi lirik nya lah... Jadi beban dalam kehidupanku. Kita telah sama-sama tahu, berhayal mewujudkan mimpi-mimpi yang kita taruh dalam kotak-kotak yang kosong.. Di sana kutemukan bukit yang terbuka Seribu cemara halus mendesah ...