Skip to main content

Posts

Lelaki – Pengelana dan Setangkai Lily

Pada dasarnya, hidup adalah pengarungan waktu yang berujung pada sebuah keputusan. Terus menerobos mencari persinggahan, kemudian memutuskan untu tinggal selamanya, atau mengembara terus, mencar sesuatu yang belum tentu ada. Kepuasan batin yang kemudian menjadi alasan, lama-lama seperti pembenaran dari sebuah ketidakjujuran hati, akan perlunya dermaga untuk melabuhkan bahtera tanpa nama itu. Seorang pengelana di neger ginseng, Korea, melintasi gunung bukit, mengarungi lautan, menempuh jalanan berkilo-kilo meter, sebagai seorang pelukis. Pada kedalaman hutan-hutan tidak berpenghuni, dia mendapati sejuta kecemerlangan kehidupan. Kesunyian menghadirkan syair-syair dalam bahasa cinta yang manis. Meski dia belum tau persis, apa makna dari mencintai itu sebenarnya. Namun, dia tak pernah berfikir untuk  berhenti mengembara. Sang pengelana itu, pada hari malam dan cuaca dingin, jauh dari kampung halamannya, singgah di warung seorang  janda beranak satu, yang mulai remaja. Sang Ja...

Lelaki : Menjadi

bicara engkau tentang gelisah yang dua tiga pekan ini membuncah saat malam sepi, tangismu pecah antara hujan dan petir yang turun tergesa-gesa sudah, bersabarlah, tenanglah .. lupakan semua hari kemarin kesini datang dalam dekapku kita mengembara meski hanya otak dan khayal bmkr/0413

Buku, Kopi & Sajak Cinta Sepenggal

+ Kapan terakhir kamu membaca buku? tanyanya suatu hari. - Hmm, kapan yah? Sebulan atau setahun lalu. Ada apa rupanya, tiba-tiba kau bertanya tentang buku? aku balik bertanya. + Tidak mengapa. Hanya ingin tahu saja. Bukankah dulu, kamu yang "meracuni" saya melahap semua buku yang kamu sodorkan. Bahkan ketika kamu paksa saya membaca Dunia Sofie yang menurut saya, hhmmm.. sangat bukan saya. Kamu ngotot. Katamu, dari situ, kamu akan mengerti apa arti hidup dan kehidupan itu sendiri. Dan saya baca. Meski bingung, pada awalnya, saya tetap teruskan hingga habis. Dan memang kemudian saya bisa merasai, nikmatnya melahap buku tebal itu.  Saya termenung. Mengingat peristiwa itu. Jauh sebelum kami menjadi akrab sekarang. Buku adalah teman buat saya. Sahabat yang tidak pernah bawel ketika saya memakai sendal jepit ke mall. Dia tidak ngamuk ketika saya langsung membacanya ketika bangun tidur. Atau  ketika dia tertimpa badan saya, waktu tidur malam sementara badan masih keringatan ...

Lelaki : Aurora, Sebuah Nama - 3 (Selesai)

http://www.wnrn.org/wp-content/uploads/2009/05/sunrise.jpg Petang berlalu pergi dengan cepat. Menarik-narik malam yang masih berselimut dalam lelap tidurnya yang abadi. Seketika, gulita menyergap. Aku kehilangan Aurora ku hari itu. Mataku masih bertumbuk ke angkasa. Menyaksikan lembayung yang sedikit-demi sedikit memudar digerus gelap. Pada hakekatnya, demikianlah kehidupan. Berputar tanpa pernah berhenti. Ada harap dan doa terpanjat ketika hening semakin sempurna menyambangi tiap sudut bumi. Gelap dan terang berganti-ganti tanpa pernah cemburu untuk tampil lebih dulu. Tidak ada perasaan saling menguasai. Disini, semuanya berjalan dalam irama yang tepat dan indah. Seketika, sebuah bintang jatuh di tatapan mata. Ia cemerlang. Hey, dia tidak jatuh. Dia menari-nari dalam orkestra malam. Lincah betul dia berlenggak-lenggok dalam keanggunan yang sempurna. Matanya menari riang. Memanggil-manggil ku untuk terbang menyentuhnya. Aku ingat apa yang dikatakan Aurora, tentang panas...

Lelaki : Aurora, Sebuah Nama – 2

http://albstroka.com/wp-content/uploads/2012/04/aurora.jpg Aku memikirkan ucapan Aurora, beberapa waktu kemarin. Ia bicara tentang panas yang membakar dan kesendirian yang hanya dia miliki sendiri. Tak terbesit sedikitpun perasaan sedih pada nada bicaranya yang selincah kancil. Semuanya seperti biasa saja terjadi, bahkan tanpa ada satupun nada fals pada ucapannya. Merdu terdengar, seperti nyanyian kaum Elf yang menyanyikan pohon dan bunga-bunga. Kesendirian sering membuat seseorang terluka. Meski tidak sedikit pula yang menjadikannya sahabat sejati. Ketika semua hal seperti duri, kenapa tidak menyendiri seperti mawar diujung tangkainya? Meski dibawahnya, ratusan duri runcing siap mencabik, namun ia indah menengadah menatap matahari dengan berani. Tak ada risau sedikitpun. Bahkan tidak pun keraguan-keraguan muncul dalam warnanya. Semuanya jelas dan percaya diri. “ Tuan! Mengapa mendengadah begitu kosong? Tidakkah hari ini, kau juga mangagumi kecantikan ku?” Aku terkej...

Lelaki : Aurora, Sebuah Nama

http://politesocietymagazine.com/blog/wp-content/uploads/2012/10/fotos_de_aurora-boreal.jpg Sebut saja begitu, Aurora. Semburat warna-warna indah dilangit karena angin matahari. Dia muncul di utara dan selatan. Aurora berasal dari bahasa Yunani, untuk dewi Fajar. Sebegitu indahnya, sehingga ia berwujud seorang dewi. Belakangan ini, Aurora muncul berkali-kali dilangitku. Membias diantara biru. Menyemburatkan warna-warna indah yang tidak terdefinisi. Mata ini,tak pernah lelah memandang. Meski leher sesekali sakit karena terlalu sering tengadah. Namun, reaksi pertama ketika dia muncul selalu sama. Mulut menganga lebar menyaksikannya. Takjub. Pada suatu hari, aku mendapati dia bicara kepadaku. Ini bukan mimpi. Aku tidak mabuk. Berhalusinasipun tidak. Cukup sadar aku membedakan letusan petasan dan rintihan nyamuk yang terbang ditelinga. Cukup sadar mengerti bahasa semut yang kelaparan karena sarangnya diganggu oleh manusia. " Tuan, kenapa terus memandangi aku begitu,"...

Lelaki : Mempertanyakan Cinta

photo by @boimakar Yang masih jadi kepercayaan diri adalah, bahwa cinta itu hak dan kewajiban yang dilebur jadi satu. mereka melebur, seperti adonan yang diuleni ketika membuat kue. Yang satu, memberi rasa kepada yang lain, tanpa ada yang ingin menjadi lebih kuat. Selaras dan tidak saling menyakiti. Hak dan Kewajiban itu, selaras didalam tubuh cinta. Menjadi nafas dan darah, atau bahkan menjadi nyawa dan raga. Apakah akan serumit itu? Bisa saja jadi begitu. Bayangkan ketika cinta hanya menjadi hak saja. Kita menuntut habis-habisan tentang cinta. Menginginkan segalanya menjadi mudah untuk kita. Merasa tidak mau disakiti, dan menolak untuk dikhianati. Menuntuk untuk mendapatkan perhatian lebih dan selalu dimanjakan oleh kemewahan-kemewahan perasaan nyaman dan senang. Berharap semuanya seperti peri yang tidak pernah tersakiti. Sementara, jika dia menjadi kewajiban saja, dia akan memberi tak putus-putus. Melayani tanpa kenal pamrih. Mengorbankan dirinya, meski harus hancur, kare...

Lelaki : Bersembunyilah

http://groomsadvice.com/wp-content/uploads/2011/02/bigstock_Cowboy_Silhouette_3089374.jpg Perasaan ini, seketika takut luar biasa. Bayangan peristiwa masa lalu bolak-balik mengisi ruang pikir. Semuanya berjalan seperti deretan film yang tak bisa dihentikan. Meski mata ditutup, terpejam, bayangan itu semakin jelas terlihat. Dan ketika lampu kamar dinyalakan, dia menempel seperti lukisan dan gambar-gambar hidup didinding putih. Kadang beralur cepat, namun pada bagian-bagian tertentu, lambat sangat terasa. Seperti slow motion sehingga semua kejadian jelas terlihat hingga ke detail paling dalam. Keringat mengucur. Namun tak ada tempat untuk melarikan diri. Berjalan kemanapun, dia mengikuti. Saya takut luar biasa. Saya percaya, persahabatan itu, terjadi hanya pada saat kita melajang. Pada masa itu, ada banyak hal yang rasanya indah sekali untuk dikenang. Tak ada hal yang nampak tabu. Sah-sah saja berbuat ini dan itu. Melanggar peraturan, makan ditempat-tempat sembarangan, at...

Lelaki : Pada Titik Jenuh

photo by @boimakar Tetiba, jenuh menyerang. Menombak dengan tepat ke titik semangat yang menyala-nyala. Bahkan, menerjangkan anak panah seperti ombak dilautan, tak pernah henti. Kopi tak lagi berasa nikmat. Susu tak terlihat putih berselera. Semua seperti hampa tanpa ada cerah terpesiar. Ngantuk datang berkali-kali tanpa henti. Juga ikut, seperti anak panah jenuh tadi menyerang. Bukan cuma raga dan jiwa, alam bawah sadar dijejali dengan bisikan-bisikan angin yang terus menerus tanpa henti.  Dokter yang ditanya, tak tau obatnya. Dukun menyerah karena tak ada wangsit yang menyampaikan berita. Aku terkurung dalam jeruji tanpa bentuk yang seolah hanya beberapa milimeter di depan mata, namun, nampak seperti jauh pulak, ribuan kilometer didepan. Lari kedepan seperti menabrak ruang kaca yang bening. Mundur kebelakang seperti jurang menganga lebar siap menerkam. Kemana harus berlari, entahlah! Kepala terasa semakin berat. Kantuk menyerang semakin meraja lela. Seluruh organ ...

Lelaki : Harap Pada Secangkir Kopi

Lembah itu terasa sepi. Sehingga angin sepoi yang berhembus pelan pun terasa bagai riuh deru kereta api. Membisingkan. Saya bisa mendengar nyanyian burung, yang kesepian di ujung ranting cemara, serta dengus nafas seekor tikus yang lalu lalang melintas. Dalam gerak-gerik yang di buat sehening mungkin. Rumputan yang kering, bergesekan dimainkan angin. Menciptakan irama merdu savana yang kering di musim ini. Warnanya kontras kecoklatan. Langit membiru. Awan lincah menari dalam siraman matahari sore yang sudah hampir lewat.  Cangkir kopi itu masih terisi setengah. Hampir dingin. Keharuman aromanya memudar seiring dengan panas yang pelan dan pasti menguap bersama udara kosong. Mungkin, dia sudah sampai ke awan putih lincah di atas itu. Uapnya sudah bertemu dengan kawan-kawan yang lain, sesama uap dari gelas kopi yang ditinggalkan peminumnya. Kemudian bergerombol untuk turun menjadi hujan dengan bentuk yang lebih jernih. Dia, sang Cangkir itu, mematung. Seperti tidak tergerus ole...

Lelaki : Dunia Gambar Penuh Cahaya

http://www.sunny16club.com/wp-content/uploads/2010/06/filmcamera.jpg Dunia photography, memang bukan dunia baru buatku. Banyak hal selama empat tahun lebih keterlibatanku dengan dunia ini, yang membuat aku jatuh cinta pada media gambar yang mempesona. Lukisan cahaya pada kertas-kertas cetakan penuh warna, selalu membawa imajinasi terbang jauh tanpa batas. Dan masih tercenung ketika mendapati moment-moment indah, langka, sadis, dan apapun itu, terpampang lewat layar komputer, media cetak, dan dari berbagai sumber memanjakan alam imajiner yang nyata. Saya tidak pernah menyebut diri sebagai photographer. Wah, jauh sekali memang. Tak pernah ada karya photo saya yang menang dalam lomba, dibeli orang sebagai karya komersial. Sekalipun ada, itu hanya gambar pelengkap dari tulisan saya yang beberapa kali memang masuk dimedia cetak. Belum apa-apa. Keterlibatan didunia photo periklanan, membuka wawasan saya tentang hal ini. Kamera menjadi barang yang tiadak asing buat saya. Bahkan...

Lelaki : Pendaki "Tanggal Merah"

B ahagia rasanya, apabila kita menjadi orang yang tidak tahu. Entahlah. Tapi, begitulah yang belakangan saya rasakan. Menjadi orang yang "tidak mengerti" akan sebuah hal yang saya mengerti, dan menjadi orang lain pada sebuah topik yang sangat familiar. Bayangkan saja, tukang kopi yang diajari cara menyeduh kopi. Atau, sopir angkot yang diajari cara menyetir mobil. Ini menyenangkan. Jangan pernah merasa terhina karenanya. Sebab, ilmu yang didapat dari seorang yang tidak pernah tahu siapa anda sebenarnya, adalah pengingat bahwa ada orang lain yang sama atau bahkan lebih unggul dari anda sendiri. Pada suatu malam, saya berkumpul dengan beberapa pecinta alam dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing kami, sudah saling kenal satu sama lain meski hanya sebatas pertemanan dalam dunia maya di jejaring sosial. Seorang dua, sudah pernah saling mengunjungi. Beberapa muka, saya ingat di jajaring saya. Hanya, ini kesempatan perama untuk bisa menjabat tangan mereka langsung dan...

Lelaki : Impian Bocah

photo by @boimakar Disekolah dasar, seorang guru perempuan, berdiri dengan anggun, memegang penggaris kayu berwarna cokelat muda. Berbaju safari yang licin sekali. Nampaknya, bekas distrika dengan sangat teliti. Bukan oleh dia sendiri, pastinya, karena saya yakin, bahwa dia tidak bisa menyetrika dengan sebaik itu. Produk instan masa kini yang nampaknya, sangat kentara. Pembantunya, atau malah laundry service yang berongkos sangat mahal. Dari penampilannya, dia memang bukan guru yang biasa-biasa saja, bukan dari golongan Umar Bakrie. Mungkin dari golongan yang lain. Bertanya dia, sang guru perempuan itu, -kenapa setiap guru harus disebut "sang" dan saya menghapus kata "si" di depan tadi? Mungkin karena alasan estetika kita yang kental sekali. Tentang cita-cita kepada murid-murid kelas empat. Hendak jadi apa kelak, jika sudah besar nanti.  Antusias, murid-murid itu menjadi gaduh. Suara tawa dan gumam dibarengi dengan pukulan penggaris kayu ke meja. Suara ...

Lelaki : Pada Sebuah Triangulasi

photo by @boimakar Mata ini masih sangat mengantuk. Mulut menguap berulang-ulang kali. Membuka lebar menghembuskan kondensasi udara dingin yang keluar bagai asap putih dari dalam kerongkongan. Kaki yang terbungkus kaos kaki dingin, masih menasakan beku. Meski tidak sedahsyat hari kemarin, namun basah hujan yang mengguyur semalam, lumayan membuat gemeretak gigi dan mengkerutkan jemari kaki. Berkali-kali, saya meniup telapak tangan dengan hembusan nafas dalam yang lebih hangat. Menggosok kedua telapaknya, kemudia meniupnya kembali. Sejurus kemudian membuka lebar, pintu tenda yang basah dan berdiri tidak sempurna dalam miring tanah. Hujan semalam, memaksa perjalanan ini harus berhenti disini. Dalam tanah tajakan miring ditepi sebuah jurang dalam dan pohon besar yang tumbang.  Kemarin, rasanya nyaman betul kasur buluk yang ada didalam kamar. Meski berdebu, dan semerawut nya tumpukan buku, gantungan baju dan langit-langit yang selalu berisik oleh larian tikus-tikus bercengk...

Lelaki : Membunuh Harapan

Hal yang paling menyakitkan, memang harapan. Apalagi yang mampu membuat sesorang bunuh diri? Kehilangan harapan mendapatkan penghidupan yang lebih layak, karena dipecat dari pekerjaan. Kehilangan asa untuk membentuk hidup dimasa depan dengan sesorang yang dicintai, karena diputuskan sang kekasih. Atau bisa jadi kehilangan harapan untuk terus melanjutkan peran sebagai manusia dengan melemparkan diri dari lantai 36 gedung bertingkat. Rasanya itu, hanya sebagian kecil, bagaimana harapan itu mampu menjadi stir dalam gerak hidup seseorang. Membunuh harapan itu, memang sulit. Bisa saja. Tapi sulit. Sekarang bayangkan saja. Suatu hari, kita berharap untuk menjadi orang kaya, dengan penghasilan  yang cukup, pada sebuah perusahaan keren, atau malah diperusahaan sendiri. Dikemudian hari. terjadi pemecatan besar-besaran karena iklim dagang dunia yang tidak menentu. Hasilnya, badan jadi bagian yang diputuskan. Dipecat. Harapan untuk menjadi kaya, luntur dan menguap. Tersapu awan kelam. Jik...