Skip to main content

Posts

Lelaki : Impian Bocah

photo by @boimakar Disekolah dasar, seorang guru perempuan, berdiri dengan anggun, memegang penggaris kayu berwarna cokelat muda. Berbaju safari yang licin sekali. Nampaknya, bekas distrika dengan sangat teliti. Bukan oleh dia sendiri, pastinya, karena saya yakin, bahwa dia tidak bisa menyetrika dengan sebaik itu. Produk instan masa kini yang nampaknya, sangat kentara. Pembantunya, atau malah laundry service yang berongkos sangat mahal. Dari penampilannya, dia memang bukan guru yang biasa-biasa saja, bukan dari golongan Umar Bakrie. Mungkin dari golongan yang lain. Bertanya dia, sang guru perempuan itu, -kenapa setiap guru harus disebut "sang" dan saya menghapus kata "si" di depan tadi? Mungkin karena alasan estetika kita yang kental sekali. Tentang cita-cita kepada murid-murid kelas empat. Hendak jadi apa kelak, jika sudah besar nanti.  Antusias, murid-murid itu menjadi gaduh. Suara tawa dan gumam dibarengi dengan pukulan penggaris kayu ke meja. Suara ...

Lelaki : Pada Sebuah Triangulasi

photo by @boimakar Mata ini masih sangat mengantuk. Mulut menguap berulang-ulang kali. Membuka lebar menghembuskan kondensasi udara dingin yang keluar bagai asap putih dari dalam kerongkongan. Kaki yang terbungkus kaos kaki dingin, masih menasakan beku. Meski tidak sedahsyat hari kemarin, namun basah hujan yang mengguyur semalam, lumayan membuat gemeretak gigi dan mengkerutkan jemari kaki. Berkali-kali, saya meniup telapak tangan dengan hembusan nafas dalam yang lebih hangat. Menggosok kedua telapaknya, kemudia meniupnya kembali. Sejurus kemudian membuka lebar, pintu tenda yang basah dan berdiri tidak sempurna dalam miring tanah. Hujan semalam, memaksa perjalanan ini harus berhenti disini. Dalam tanah tajakan miring ditepi sebuah jurang dalam dan pohon besar yang tumbang.  Kemarin, rasanya nyaman betul kasur buluk yang ada didalam kamar. Meski berdebu, dan semerawut nya tumpukan buku, gantungan baju dan langit-langit yang selalu berisik oleh larian tikus-tikus bercengk...

Lelaki : Membunuh Harapan

Hal yang paling menyakitkan, memang harapan. Apalagi yang mampu membuat sesorang bunuh diri? Kehilangan harapan mendapatkan penghidupan yang lebih layak, karena dipecat dari pekerjaan. Kehilangan asa untuk membentuk hidup dimasa depan dengan sesorang yang dicintai, karena diputuskan sang kekasih. Atau bisa jadi kehilangan harapan untuk terus melanjutkan peran sebagai manusia dengan melemparkan diri dari lantai 36 gedung bertingkat. Rasanya itu, hanya sebagian kecil, bagaimana harapan itu mampu menjadi stir dalam gerak hidup seseorang. Membunuh harapan itu, memang sulit. Bisa saja. Tapi sulit. Sekarang bayangkan saja. Suatu hari, kita berharap untuk menjadi orang kaya, dengan penghasilan  yang cukup, pada sebuah perusahaan keren, atau malah diperusahaan sendiri. Dikemudian hari. terjadi pemecatan besar-besaran karena iklim dagang dunia yang tidak menentu. Hasilnya, badan jadi bagian yang diputuskan. Dipecat. Harapan untuk menjadi kaya, luntur dan menguap. Tersapu awan kelam. Jik...

Lelaki : Perisai Bernama Diam

Sudah. Diam sajalah. Begitu dia berkali-kali mengingatkan. Untuk tidak memperkeruh suasana yang memang sudah sangat tidak kondusif. Bayangkan saja. Api menyala-nyala membakar. Sementara halilintar dan hujan turun bersamaan. Entah si api memperoleh kekuatan dari mana, hingga mampu terus membakar pada saat air turun  dengan hebatnya. Memadamkan api ditengah hujan petir seperti ini, rasanya seperti sia-sia. Bahkan menuangkan isi lautan pun, rasanya belum cukup kuat untuk membutnya berhenti berkobar. Api seperti dirasuki kekuatan gaib, menyambar-nyambar tanpa ampun. Melahap apasaja yang ada didekatnya, bahkan yang jauh sekalipun. Jika sudah begini, rasanya usaha apapun, menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Yang terbaik memang diam. Melihat dan menyaksikan dia padam dengan sendirinya karena kehabisan tenaga. Melemah dan kemudian mati. Ada pertanyaan terlontar dengan dahsyat, ketika sebuah peristiwa terjadi. Bertubi-tubi. Menusuk-nusuk. Lalat yang berterbangan pun, mati karena kilata...

Lelaki : Nama ku, Agustus

Jangan pernah peduli dengan siapa kau berhadapan. Pedulilah dengan apa kau akan menghadapinya. Pernah kita melihat sebuah kehidupan tanpa ujung. Masuk kedalamnya seperti menjadi sebuah pekerjaan rumah yang tidak pernah ketemu jawabannya. Berputar-putar tentang rumus-rumus yang njelimet tanpa pernah tau bagaimana menggunakanya. Namaku, Agustus. Begitu senyum kecilnya membuka pada pertemuan kami pertama kali. Itu memang nama yang wajar, buat sebaian orang. Buat ku tetap saja aneh. Kenapa ada orang yang dinamakan dengan nama-nama bulan dalam hitungan masehi. Agustus, April, Januari. Kenapa tidak ada orang bernama Maret, Desember, atau September? Juli dan Juni, tentu saja ada. Kenapa tidak Oktober? Hanya Okto saja kadang-kadang. Tapi, jangan salah, aku tidak dilahirkan pada bulan Agustus, lho. Nah, ini lagi yang aneh. Kenapa tidak pernah terlahir pada bulan itu, lalu dinamakan seperti bulan itu. Orang tuanya pasti aneh juga. Dia, si Agustus, ternyata lahir pada bulan Juli. Hampir p...

Lelaki : Dunia Tanpa Nama - Sebuah Fiksi Pendek

Selamat pagi, Matahari .. Sapaan macam apa itu. Matahari selalu terbit pertama kali memang pagi-pagi. Tak perlu rasanya menyapa dia dengan kata itu. Suatu hari, roh matahari turun kebumi pada malam hari. Menggantung di leherku, menggelayut pada bulu-bulu mataku, menyangga kelopak mata hingga dipaksa membuka hingga pagi. Badan sudah letih betul. Tenaga sudah habis untuk melawan kekuatan maha hebat itu. Tapi, roh matahari dan roh gravitasi bersinergi membentuk kekuatan yang tidak bisa tertandingi. Hebat dan perkasa. Aku dijebak. Mangangguk dan amin pada setiap ucapan yang terlontar dari mulut-mulut tak nampak. Cuma bunyi-bunyian yang kadang kala, membesar menggema, pada lorong putih penuh kran air yang siap-siap memancurkan isinya. Tapi, anehnya. meski roh matahari berkeliaran disana, detektor panas tidak juga bekerja menjalankan tugasnya. Ini apa? Rekayasa atau memang kran-kran air itu tersumbat oleh roh gravitasi yang tertarik bulan. Ramai betul tempat itu. Beribu Manu...

Lelaki : Selamat Datang Juli

Biasanya, saya tidak pernah terlalu menghiraukan dengan pergantian bulan-bulan dalam setahun. Dari semenjak saya bisa mengingat penanggalan kalender, bulan-bulan itu berjalan sangat teratur, dalam ritme yang sama. Hanya sehari dalam empat tahun, yang berbeda. Selebihnya, dia berjalan seperti robot yang berputar-putar dalam garis imajiner lingkaran yang tidak pernah berujung.  Mengapa Juli?  Ini adalah bulan saya dilahirkan, lebih tiga puluh tahun yang lalu. Bukan angka yang sedikit memang. Untuk sebagian orang, ini adalah berkah dan kutukan. Ini seperti gerbang, dimana taman bunga dan jurang yang dalam menganga, pada tempat bersamaan. Keharmonisan dan keselarasan dalam usia ini, meningkat. seiring dengan kecakapan kita membaur dengan lingkungan, yang bahkan tidak pernah kita sadari sudah datang. Itu seperti taman bunga bukan? Dan disisi yang lain, dia seperti menghadirkan frustasi yang dalam. Ngeri yang berlebihan, serta ledakan emosi yang menghantam segala syaraf, mu...

Lelaki : Kejutan dan Kenyataan

http://www.stanford.edu/~grg/images/orange_flower.jpg Ada kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Betapapun kita coba menghidar, dia seperti benalu yang datang tanpa permisi. Seperti flu yang susah sekali sembuh. Semakin lama mencoba untuk diobati, dia menjadi semakin ganas, menjadi semakin menjadi. Meskipun, kenyataanya, obat yang paling mujarab adalah sesuatu yang sangat biasa. Air putih dan istirahat. Keduanya, hampir tak pernah ada harganya dimata kebanyakan kita. Ada kenyataan yang kemudian menjadi pelajaran. Terjadi berkali-kali. Seperti rentetan petasan yang meletup dikala lebaran orang betawi. Kenyataan itu, ya begitu-itu. Mengagetkan. Sering kali, kita nggak siap nerima, namun tetap harus dihadapi. Bicara tentang kejutan, ada yang menyenangkan. Ada juga yang nggak. Yang menyenangkan, meskipun terkadang bikin shock, bikin bete, toh tetap menjadi tawa pada akhirnya. Sedang yang tidak menyenangkan, akan menjadi ingatan yang menghantu sepanjang hidup. S...

Lelaki : Matahari & Harapan

http://saveimages.taoindonesia.info/2012/03/eagle-5.jpg U ntuk sebagian orang, punya mimpi adalah sebuah kemewahan. Bahkan, sebuah buku paling laris di negeri ini, mengajarkan untuk membentuk mimpi. Melihat dari sudut paling absurd tentang kehidupan yang nampak begitu mulus. Kemudian loncat dari gedung tinggi, melebarkan sayap, berharap jadi rajawali, dan bumm.. telak menghantam tanah. Ketika melihat matahari, terpikir untuk bermimpi pun tidak. Ia begitu perkasa. Membakar dengan kadar yang sudah diperhitungkan, sehingga kecil kemungkinan membunuh. Meski. kita hidup dialam khatulistiwa yang berlimpah ruah cahaya matahari. Matahari. memang tidak pernah salah memberi rejeki kepada siapapun. Panasnya tak pernah dibagi tidak adil. Seluruh alam raya kebagian jatah. Sedikit banyak. Dan untuk menjumpai matahari, tak perlu mengharap terlalu dalam. Toh, dinegara kita, dua belas jam dalam gelap bukan waktu yang lama. Teringat ketika seorang tokoh Indonesia, mengatakan, " yang misk...

Lelaki : Antara Kamu, Saya dan Mandalawangi

Mulanya, tidak percaya rasanya bisa ada tempat itu. Sebuah alun-alun sabana tidak terlalu luas, penuh bunga-bunga putih kekuningan, sungai kecil membelah ditengah, dengan air yang lebih segar dari air kemasan manapun. Tempat ini keramat. Konon almarhum Soe Hok Gie, yang belakangan ini begitu membahana namanya, karena sebuah film, mampir kesini, menghempas galaunya. Konon, tempat ini menewaskan banyak pendaki gunung, yang tegoda untuk bisa menikmati siraman matahari pagi pertama yang sendu. Perjumpaan saya pertama dengan Mandalawangi, ketika saya begitu penasaran, melihat sebuah photo yang ditunjukan seorang kawan pendaki. Dia yang merupakan relawan di salah satu taman nasional indonesia, menjembreng beberapa photo yang menawan. Semburat awan, dengan latar langit biru yang elok, serta kabut tipis membungkus pohon-pohon yang meremang ditimpa cahaya pagi hari. Sungai kecil yang berair bening, dan rumputan coklat yang masih basah oleh embun. Semuanya nampak sempurna. Beberapa kuntum e...

Lelaki : Percakapan Sore

S ore itu, kami kumpul diruang tengah kami yang sekaligus merangkap ruang nonton tipi. Tidak ada kursi dirumahku. Semua lesehan. Bermalas-malasan diatas kasur yang tidak baru lagi. Ini titipan seorang teman yang memutuskan pindah ke luar Jawa, karena pekerjaannya. Kami masih sering berkomunikasi, dengan bahan obrolan "norak" seputar kasur titipan itu. Emak, ada ditengah-tengah kami. Usianya yang sudah tidak muda, memandang anak-anaknya satu-satu. Mengacak rambut ku yang tidak bersisir jika di rumah. " Sering kali, orang bicara tentang kamu, Nak. Tentang pekerjaan mu yang mati-matian kau bela, tapi tak  nampak hasilnya. Tentang kau, yang diusiamu sekarang masih membujang," katanya lirih. " Siapa orangnya," aku menyahut pelan. " Siapapun orang nya tidak penting. Dia bicara langsung ke Emak," Hati saya berdesir. Emosi itu menumpuk jadi satu. Ingin rasanya menghajar orang yang bicara langsung didepan Emak karena saya. Saya terdiam. Meredam ...

Lelaki : Memandang Mu Terlelap

i want to be always beside you Tadinya, saya berfikir kalau itu biasa saja. Menjumpaimu setelah sekian lama tidak bertemu. Awalnya. saya merasa ini adalah pengulangan cerita yang dulu pernah ditorehkan. Alur yang sudah pernah saya baca dan saya lewati, kemudian akan kembali saya ulang. Bosan menyerang di awal-awal. Tidak pernah terpikir untuk menjadikan ini berbeda. Nyatanya. Sesaat saya diam. Memandangmu dalam temaram langit yang mulai gelap. Mengartikan tiap gurat perasaan yang sudah lama betul tidak pernah terpendar. Pesona mu masih seperti dulu. Ketika pertama kali melihatmu dengan jelas, di lembah itu. Mengerjapkan mata, merentangkan tangan membentuk pesawat terbang, kemudian berteriak, " elaaang, bawa aku disisimu," lalu terkekeh disemburat cahaya sore yang temaram. Sekelebat, mestinya saya tersadar. Ada kehidupan yang sudah lama sekali tertinggal disana. Diserakan batuan yang menjejali jalanan penuh akar. Saya pikir, saya sudah tandaskan rasa itu di batang-b...

Lelaki - Sukses Adalah ..

K awan saya yang semasa SMP dulu adalah seorang "berandalan", tukang bolos, tukang palak, tukang mabok, merokok dan sederet kejahatan masa sekolah lainnya, tiba-tiba datang dihadapan saya, berdasi biru muda, dengan kemeja dan jas abu-abu tua, menjinjing iPad. Kaca matanya, "nongkrong" dihidungnya yang memang mancung. Dulu, dia hitam dekil, sekarang, necis. Parfumnya saja, bukan murahan. Entah dibeli di Amerika atau Eropa. Entahlah.  Dia menjabat sebagai salah seorang Manager pada sebuah BUMN ternama di Indonesia. Pangling? Tentu saja iya. Saya bahkan hampir bertanya, siapa dia. Namun, beberapa sifat nya memang tidak berubah. Senyumnya, yang selalu nakal. Atau bicaranya yang keras dan nyaring.  Obrolan kami, semakin hangat dari menit-kemenit. Dia bercerita tentang betapa bobroknya sistem pemerintahan di Indonesia. Korupsi disegala bidang, bahkan di kantornya sendiri. Namun, berkali-kali dia meyakinkan saya, bahwa dia tidak terlibat. Kemudian tentang aset-a...

Lelaki : Memulai Sebuah Perjalanan

S ama saja susahnya. Memulai sebuah perjalanan, meneruskan perjalanan, atau mengakhirinya. Sama-sama penuh tantangan. Memulai langkah baru, sering kali memunculkan keraguan-keraguan. Bayangan gagal, melayang-layang dalam setiap kesempatan. Gambaran itu, semakin besar, manakala. ada orang lain yang tidak pro terhadap apa yang akan kita mulai. Kesiaan itu yang sering kali muncul terus menerus. Pada dasarnya, kita, manusia,  mempunyai kemampuan yang sama untuk menterjemahkan sebuah persoalan. Hanya seringkali, kita tak  punya banyak pengalaman untuk melihat itu dari sisi yang lain. Ketika lapar, kita berkeinginan untuk makan. Itu sebuah persoalan yang dilihat dengan cara yang wajar. Bahwa makanan untuk membuat kita kenyang itu adalah nasi, itu pun wajar. Namun, seringkali nasi menjadi sesuatu yang langka dan susah untuk di dapat, sehingga sebagai manusia yang mempunyai cukup pengalaman berfikir, kita mencari alternatif lain untuk memuaskan rasa lapar kita tersebut. P...

Lelaki : Mendadak Takut

Sederet petualangan dalam hidup, seperti rentetan peluru yang ditembakkan dari senjata api. Menerus, mengeluarkan bising, tanpa jeda. Menuju kesatu tujuan yang sering kali bahkan tidak pernah kita tuju sebetulnya. Nyasar, istilah yang seringkali diucapkan orang-orang. Tapi, apakah hati seperti peluru? Nyasar juga, ketika menunggu sesuatu? Mengenal begitu banyak orang dalam hidup, adalah anugrah yang tidak pernah terbayang sebelumnya dalam kehidupan saya. Bermacam kalangan. Selebritas, politisi, CEO, pendaki gunung, penyelam, tukang sayur, tukang becak, ojek, gelandangan di bawah jembatan tol, teman berbagai komunitas, wartawan, dan masih banyak lagi. Masing-masing, menempatkan diri pada porsi mereka dengan sekat jelas. Dan saya, harus bisa-bisa menjadi bunglon, untuk bisa membaur. Seringkali, tempat "nongkrong" mereka berbeda. Yang politisi misalnya, lebih senang nongkrong di bar mewah remang, dengan gadis-gadis ber rok mini seksi yang duduk dipangkuan mereka. Yang wartawan...